JAYAPURA, Papuaterdepan.com – Sinergi antara pemerintah dan lembaga keagamaan dinilai penting untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam pertemuan antara Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jayapura dan Badan Pimpinan Daerah (BPD) Gereja Bethel Aliran Pentakosta (GBAP) di Tanah Papua, Rabu (22/7/2026).
Kepala Kemenag Kota Jayapura, Ani Matdoan, menerima langsung rombongan pengurus BPD GBAP Kota Jayapura dalam agenda audiensi dan silaturahmi yang berlangsung di ruang kerjanya.
Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi GBAP untuk memperkenalkan perkembangan organisasi sekaligus membangun komunikasi dengan pemerintah dalam mendukung pelayanan keagamaan dan sosial di Kota Jayapura.
Ketua BPD GBAP Kota Jayapura, Pdt. Festus Ohee, menjelaskan perkembangan pelayanan GBAP di Tanah Papua yang terus meluas sejak mulai aktif melakukan pelayanan secara intensif pada 2023.
Khusus di Kota Jayapura, GBAP telah memiliki sekitar 13 jemaat awal. Pengurus juga menyampaikan dokumen terkait legalitas organisasi dan gereja sebagai bagian dari tertib administrasi serta penguatan hubungan kelembagaan dengan pemerintah.
Dalam pertemuan itu, pembahasan kemudian diarahkan pada persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama. Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah keberadaan anak-anak terlantar.
Ani Matdoan mengatakan perlindungan terhadap anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kepedulian seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga keagamaan.
“Anak-anak adalah amanah dari Tuhan yang harus dijaga, dilindungi dan dibimbing. Kita harus bersama-sama memastikan mereka mendapatkan perhatian dan pembinaan yang layak,” ujarnya.
Ia menilai gereja memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat melalui kegiatan pelayanan dan pembinaan umat.
Karena itu, Kemenag Kota Jayapura mendorong adanya kegiatan bersama antara Penyuluh Agama Kristen dan pengurus GBAP untuk mengidentifikasi serta membantu menangani persoalan sosial di lingkungan masyarakat.
“Kami berharap Penyuluh Agama Kristen dapat berkolaborasi dengan pengurus GBAP untuk turun langsung ke masyarakat dan membantu menangani berbagai persoalan sosial,” katanya.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menyasar persoalan anak terlantar, tetapi juga dapat dikembangkan melalui pembinaan keluarga, penguatan kehidupan keagamaan, serta kegiatan sosial yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
Selain persoalan sosial, pertemuan juga memperkuat komitmen kemitraan antara pemerintah dan lembaga keagamaan. Kemenag Kota Jayapura berharap komunikasi dengan organisasi gereja terus berjalan sehingga berbagai program pelayanan dapat dilakukan secara terkoordinasi.
Bagi GBAP, kemitraan dengan pemerintah menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan pelayanan gereja melalui semangat berbakti, bersaksi, dan melayani.
Audiensi berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh kekeluargaan. Kedua pihak sepakat memperkuat komunikasi serta membuka ruang kerja sama dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial di Kota Jayapura.









