Nabire, Papuaterdepan.com – Perbaikan sarana pendidikan melalui program revitalisasi madrasah mulai dirasakan manfaatnya oleh Madrasah Aliyah (MA) Asy Syafiiyah Nabire, Papua Tengah. Namun, di tengah pembenahan fasilitas fisik tersebut, sekolah masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik tetap serta belum memiliki aula untuk menunjang kegiatan belajar dan pertemuan.
Kondisi itu diketahui saat tim Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua melakukan pemantauan revitalisasi madrasah di MA Asy Syafiiyah pada 16 September 2026. Tim yang terdiri atas Imam Rochimi, Irsan Kuylo, dan Ila Irnawati tersebut didampingi Kepala Seksi Pendidikan Islam Kemenag Kabupaten Nabire, Bahar.
Dalam pertemuan itu, Wakil Kepala MA Asy Syafiiyah, Sujawati, menjelaskan bahwa program revitalisasi membawa perubahan terhadap kondisi sejumlah fasilitas sekolah yang sebelumnya membutuhkan perbaikan.
Pekerjaan yang dilakukan mencakup pembangunan toilet untuk siswa laki-laki, siswa perempuan, dan guru. Selain itu, rehabilitasi juga menyasar ruang kelas X, XI, dan XII, laboratorium, serta ruang kantor.
Menurut Sujawati, keberadaan toilet baru menjadi salah satu perubahan yang paling dirasakan warga sekolah. Sebelum fasilitas tersebut tersedia, siswa harus menuju masjid untuk menggunakan toilet.
Meski demikian, pembenahan bangunan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan madrasah. Ketersediaan guru tetap masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian agar proses pembelajaran berjalan lebih konsisten.
MA Asy Syafiiyah saat ini memiliki 17 guru, terdiri atas tiga aparatur sipil negara (PNS) dan 14 tenaga honorer. Sementara itu, jumlah siswa dari kelas X hingga XII secara keseluruhan masih di bawah 30 orang.
Sujawati berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap pemenuhan tenaga pendidik, termasuk melalui penempatan guru berstatus PNS maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia menjelaskan, sebagian guru honorer datang ke sekolah untuk memenuhi jam mengajar masing-masing, kemudian meninggalkan sekolah setelah tugasnya selesai. Karena itu, keberadaan guru tetap dinilai penting untuk mendukung keberlangsungan kegiatan pendidikan sekaligus kebutuhan sekolah di luar jam pembelajaran.
Kebutuhan lain yang belum terpenuhi ialah aula. Selama ini, ruang kelas kerap digunakan untuk kegiatan rapat atau pertemuan karena madrasah belum memiliki bangunan khusus. Penggunaan ruang belajar untuk kegiatan tersebut berpotensi mengganggu jadwal pembelajaran siswa.
Persoalan lingkungan sekolah juga masih perlu ditangani, terutama terkait saluran drainase dan genangan air. Madrasah pernah mengalami banjir pada malam hari hingga air merendam dan merusak pompa air yang digunakan sekolah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya membutuhkan bangunan yang layak, tetapi juga dukungan tenaga pendidik, ruang penunjang, dan lingkungan sekolah yang aman.
Pemantauan revitalisasi itu menjadi kesempatan untuk menyampaikan kondisi riil madrasah serta kebutuhan yang masih harus ditindaklanjuti. Dengan dukungan berkelanjutan, fasilitas yang telah diperbaiki diharapkan dapat diikuti peningkatan kualitas layanan pendidikan bagi para siswa di Nabire.(Rilis)









