Jayapura, Papuaterdepan.com–Pembahasan mengenai desil bantuan sosial (bansos) tidak hanya menjadi perhatian masyarakat dalam melihat kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi bahan refleksi dalam Ibadah Oikumene Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua.
Refleksi tersebut disampaikan Pendeta Sri Herlina Bangun Karubaba saat memimpin Ibadah Oikumene di Aula Sasana Krida Bhakti Kanwil Kemenag Papua, Senin (7/9/2026).
Mengawali khotbahnya, Pdt Sri mengajak para aparatur sipil negara (ASN) yang mengikuti ibadah mencermati fenomena masyarakat yang kini dapat mengecek status desil bansos secara langsung melalui layanan Kementerian Sosial.
Ia kemudian mengaitkan kondisi ekonomi yang tercermin dalam desil bansos dengan tema khotbah **“Standar Hidup di Dalam Tuhan”**, yang berlandaskan Yakobus 1:9-11 tentang keadaan rendah dan keadaan kaya.
Menurut Pdt Sri, kategori ekonomi yang diberikan pemerintah tidak seharusnya menjadi ukuran utama seseorang dalam menilai harga dirinya. Kondisi kaya maupun miskin merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang perlu dijalani dengan sikap iman.
Ia menjelaskan, surat Yakobus memberikan perspektif yang berbeda mengenai kondisi kemiskinan. Orang yang berada dalam keadaan rendah justru diajak untuk bermegah karena memiliki kedudukan di hadapan Tuhan.
“Kalau kita melihat secara manusia, tentu menjadi pertanyaan mengapa orang yang hidup dalam kekurangan justru diminta bermegah. Tetapi Yakobus ingin mengingatkan bahwa dalam kesulitan, manusia belajar untuk semakin bergantung kepada Tuhan,” katanya.
Di sisi lain, Pdt Sri mengingatkan mereka yang memiliki kehidupan ekonomi lebih baik agar tidak menjadikan kekayaan sebagai sumber kesombongan.
Kekayaan, menurutnya, dapat menjadi kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur melalui kepedulian kepada orang lain.
“Bukan berarti kita tidak boleh kaya. Ketika Tuhan memberikan kelimpahan, gunakan itu untuk berbagi dengan sesama. Bukan hanya berbagi secara materi, tetapi juga berbagi iman sehingga orang lain dapat merasakan kebaikan Tuhan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kondisi kehidupan manusia dapat berubah dan tidak ada sesuatu yang bersifat kekal di dunia. Karena itu, ASN Kemenag Papua diajak menjadikan iman sebagai pegangan, baik ketika menghadapi kesulitan maupun saat memperoleh keberhasilan dan kelimpahan.
Pesan tersebut dinilai penting bagi ASN yang sehari-hari menjalankan tugas pelayanan publik dan pelayanan keagamaan. Kehidupan yang berkecukupan maupun penuh keterbatasan, kata dia, harus tetap direspons dengan sikap yang mencerminkan nilai-nilai iman.
“Tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini. Karena itu, bijaklah menjalani hidup. Saat susah jangan lupa Tuhan, saat suka pun demikian. Jadikan itu pegangan dalam hidup,” katanya.
Ibadah Oikumene tersebut turut dihadiri Kepala Bidang Urusan Agama Kristen Kanwil Kemenag Papua, Tonny Sahertian.
Kegiatan rutin itu diharapkan tidak hanya menjadi ruang peribadatan, tetapi juga memperkuat kehidupan spiritual ASN Katolik dan Kristen sehingga dapat menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat dengan penuh tanggung jawab.(Rilis)









