Jayapura, Papuaterdepan.com – Memperbaiki diri tidak cukup hanya dengan rajin mengikuti pengajian dan mendengarkan ceramah. Setiap nasihat agama perlu diwujudkan melalui perilaku, pengendalian diri, serta kepedulian terhadap sesama. Pesan tersebut disampaikan Ustaz Imam Rochimi saat mengisi pengajian rutin ASN Muslim di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua, Senin (21/9/2026).
Dalam kegiatan yang berlangsung di Musala Al-Ikhlas itu, Imam mengajak jamaah menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pengetahuan yang didengar tanpa perubahan sikap.
Ia mengangkat Surah Az-Zumar ayat 71 sebagai bahan renungan mengenai konsekuensi mengabaikan peringatan Allah SWT. Menurutnya, manusia perlu memanfaatkan kesempatan selama hidup untuk memperbaiki perilaku dan menjalankan kebaikan sebelum tiba waktunya mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Imam menilai kemudahan memperoleh ceramah melalui pengajian langsung maupun platform digital semestinya diikuti dengan peningkatan kualitas diri.
“Dalam kehidupan kita sekarang, hampir setiap pekan ada pengajian. Setiap saat juga ada nasihat dan tausiah, termasuk melalui media sosial dan YouTube. Namun, persoalannya adalah apakah nasihat itu benar-benar kita amalkan atau hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri,” ujarnya.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak membiarkan nasihat berlalu tanpa menghasilkan perubahan. Kesediaan menerima teguran dan memperbaiki kekurangan, menurutnya, menjadi bagian penting dari upaya menjaga keimanan.
### Hindari kebiasaan mencari kesalahan orang lain
Salah satu hal yang disoroti Imam ialah kebiasaan membicarakan aib dan kekurangan orang lain. Ia meminta jamaah lebih mengutamakan evaluasi terhadap diri sendiri daripada sibuk mencari kesalahan sesama.
Menurutnya, ucapan yang telanjur disebarkan dapat menimbulkan persoalan dan sulit diperbaiki. Karena itu, menjaga lisan perlu menjadi kebiasaan, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun ketika berkomunikasi melalui media sosial.
Selain itu, ia mengingatkan bahaya hati yang keras, terutama ketika seseorang tidak lagi tergerak memperbaiki diri meskipun berulang kali mendapatkan nasihat agama.
Imam mendorong jamaah memperbanyak zikir, istigfar, salat, membaca kalimat tayibah, dan menjalankan ibadah malam sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat kepekaan spiritual.
“Orang yang hatinya keras ketika mendengar nasihat hanya begitu-begitu saja. Nasihat datang, tetapi tidak memberikan perubahan. Karena itu, hati perlu dilatih dan dilembutkan dengan memperbanyak zikir, istigfar, salat, membaca kalimat tayibah, serta memperbanyak ibadah,” jelasnya.
### Jangan menunda amal saleh
Dalam ceramah tersebut, Imam juga mengingatkan pentingnya memelihara rasa malu kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Ia mengajak jamaah mensyukuri kesehatan dan kemampuan beraktivitas dengan meningkatkan ketaatan. Menurutnya, kondisi fisik yang memungkinkan seseorang beribadah hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Perhatian berikutnya adalah kebiasaan menunda kebaikan karena merasa masih memiliki banyak waktu. Imam menjelaskan bahwa *tulul amal* atau panjang angan-angan bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki cita-cita, melainkan jangan sampai harapan terhadap masa depan membuat amal saleh terus ditangguhkan.
“Kalau hari ini kita memiliki kesempatan untuk beramal, maka laksanakan. Jangan terus-menerus menunda amal saleh karena merasa masih ada hari esok,” katanya.
Ia mengajak umat Islam segera memanfaatkan kesempatan untuk bersedekah, membantu pembangunan tempat ibadah, dan melakukan berbagai perbuatan baik lainnya.
Imam juga menyoroti kecintaan berlebihan terhadap kehidupan dunia. Harta, kendaraan, jabatan, dan keluarga merupakan bagian dari kehidupan, tetapi tidak seharusnya menguasai hati hingga membuat seseorang melupakan kematian dan kehidupan akhirat.
“Dunia silakan kita jalani dan kita manfaatkan, tetapi jangan sampai seluruh dunia kita masukkan ke dalam hati. Jangan sampai kecintaan kepada harta, kendaraan, jabatan atau keluarga membuat kita melupakan kematian dan kehidupan akhirat,” tuturnya.
Akhlak menjadi bagian dari menjaga amal
Hal terakhir yang ditekankan Imam adalah pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Ia meminta jamaah menghindari perilaku yang menyakiti, menzalimi, atau membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Menurutnya, kualitas kehidupan beragama juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang lain. Sikap saling menghormati, menjaga ucapan, dan menghindari tindakan yang merugikan sesama perlu diterapkan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
“Jangan menjadi orang yang membuat orang lain tidak nyaman. Jangan suka membuat masalah, menyakiti, atau menzalimi orang lain. Kita harus belajar menjaga hubungan dengan sesama manusia,” ujarnya.
Menutup tausiyah, Imam mengajak jamaah mengevaluasi enam hal yang menjadi pokok pembahasannya, yaitu kebiasaan menggunjing, keras hati terhadap nasihat, kehilangan rasa malu kepada Allah, menunda amal kebaikan, mencintai dunia secara berlebihan, serta mengabaikan kenyamanan dan hak orang lain.
Ia berharap pengajian rutin dapat mendorong ASN Muslim di lingkungan Kanwil Kemenag Papua semakin konsisten memperbaiki ibadah dan akhlak. Dengan demikian, nilai-nilai yang diperoleh melalui pembinaan keagamaan dapat tercermin dalam kehidupan pribadi dan pelaksanaan tugas sehari-hari.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi Papua Gatut Aryoko, Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam Muslimin Yelipele, Kepala Bidang Pendidikan Islam Muzakir Asso, serta ASN dan tenaga honorer di lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Papua.(Rilis)









