Jayapura, Papuaterdepan.com – Pembentukan karakter sejak usia dini menjadi perhatian Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua melalui pembinaan keagamaan bagi siswa SMP Negeri 8 Jayapura di Koya, Jumat (18/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Katolik Yosephina Tiert mengajak para siswa memanfaatkan masa remaja untuk mengembangkan potensi diri, membangun sikap bertanggung jawab, serta membiasakan tindakan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Pembinaan rohani, mental, dan spiritual yang mengusung tema *“Saya Masih Muda, Saya Bisa Menjadi Berkat”* itu dilaksanakan melalui ibadah dan dialog interaktif bersama para siswa.
Yosephina menekankan bahwa kemampuan untuk memberikan dampak positif tidak ditentukan oleh usia. Remaja pun dapat berkontribusi melalui kepedulian terhadap teman, penghormatan kepada guru, ketaatan kepada orang tua, serta keterlibatan dalam kegiatan yang bermanfaat.
Ia juga mengingatkan siswa agar tidak mengikuti perilaku negatif hanya karena tekanan pergaulan, termasuk tindakan perundungan atau bullying.
Menurutnya, keberanian untuk menolak ajakan yang merugikan orang lain merupakan bagian dari pembentukan karakter dan penerapan nilai-nilai iman dalam kehidupan nyata.
“Ketika ada teman yang duduk sendirian, kita bisa datang menyapa. Ketika ada teman yang tidak mengerti pelajaran, kita bisa membantu. Ketika ada ajakan untuk melakukan bullying, kita tidak ikut-ikutan,” kata Yosephina.
Dalam penyampaian materi, ia menggunakan Injil Lukas 8:1–3 sebagai bahan refleksi. Bacaan tersebut menggambarkan pelayanan Yesus yang didukung para murid dan sejumlah perempuan dalam mewartakan Kerajaan Allah.
Kisah itu menjadi pengingat bahwa setiap orang mempunyai peran dan kemampuan yang dapat digunakan untuk mendukung kebaikan bersama. Karena itu, siswa didorong mengenali talenta masing-masing dan mengembangkannya melalui proses belajar serta kegiatan positif.
Yosephina mengatakan, persiapan menghadapi masa depan harus dimulai sejak sekarang. Kebiasaan belajar, disiplin, dan memanfaatkan kemampuan secara bertanggung jawab merupakan langkah penting dalam membangun masa depan yang lebih baik.
“Setiap anak mempunyai talenta yang sudah Tuhan berikan. Pertanyaannya, apakah saya sudah mempergunakannya dengan baik? Karena itu, persiapan untuk menjadi lebih baik di masa depan dimulai dari sekarang, bukan nanti,” ujarnya.
Selain pengembangan potensi, para siswa diajak membangun kebiasaan menghargai orang lain, mengendalikan emosi, bersikap jujur, serta berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Ia turut mengingatkan pentingnya penggunaan telepon genggam secara bijak agar teknologi tidak mengganggu tanggung jawab belajar maupun hubungan sosial.
Yosephina menegaskan, tanggung jawab dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana, seperti membantu pekerjaan di rumah, menghormati guru, menyelesaikan tugas sekolah, dan menjaga sikap dalam pergaulan.
“Bertanggung jawab dimulai dari hal-hal yang paling sederhana yang ada di sekitar kita. Dari hal-hal kecil itulah kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik,” katanya.
Melalui pembinaan tersebut, para siswa diajak membangun komitmen untuk terus melakukan kebaikan, mengembangkan talenta, menjaga pergaulan, dan menghadirkan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelayanan penyuluhan keagamaan Kanwil Kemenag Papua kepada umat, khususnya generasi muda, agar nilai-nilai spiritual dapat diterapkan dalam pembentukan karakter dan kehidupan bermasyarakat.
Pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut ialah bahwa setiap remaja, tanpa harus menunggu dewasa, dapat memilih untuk berbuat baik dan menjadi berkat bagi sesama.









