Biak Numfor,Papuaterdepan.com– Pembinaan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Biak Numfor tidak hanya berkaitan dengan menjalani masa pidana, tetapi juga diarahkan untuk membangun kesiapan mental dan spiritual sebelum kembali ke tengah keluarga serta masyarakat.
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Biak Numfor menilai pendampingan keagamaan menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut, khususnya bagi warga binaan beragama Kristen.
Kepala Seksi Urusan Agama Kristen Kemenag Biak Numfor Theodorus M. Urbinas mengatakan masa berada di dalam Lapas dapat dimanfaatkan warga binaan untuk melakukan introspeksi, memperbaiki diri dan memperkuat keyakinan sebagai modal menjalani kehidupan setelah bebas.
“Lembaga pemasyarakatan bukan sekadar tempat untuk menjalani hukuman, melainkan tempat pembinaan, tempat untuk merenungkan kehidupan kita, membenahi diri, dan menempa mental agar menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Theodorus saat membuka kegiatan bimbingan mental (bintal) spiritual bagi WBP Kristen di Lapas Kelas II B Biak Numfor, Sabtu (12/9/2026).
Menurut dia, pembinaan spiritual yang dilakukan secara konsisten dapat membantu warga binaan membangun kembali nilai-nilai positif dalam kehidupan, termasuk memperkuat keimanan dan membentuk sikap yang lebih baik.
Kegiatan bintal tersebut digelar melalui kolaborasi Gereja Bethel Gereja Pentakosta (GBGP) Jemaat Tunas, Yayasan Surbabo dan Jaringan Doa Sekota.
Theodorus menyampaikan apresiasi terhadap keterlibatan berbagai unsur keagamaan tersebut karena pendampingan tidak berhenti pada kegiatan ibadah, tetapi diharapkan memberikan penguatan bagi warga binaan selama menjalani proses pembinaan.
Ia berharap para pendeta dan gembala yang terlibat dapat menjadi penguat bagi warga binaan untuk menghadapi proses pembinaan sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa masih terdapat kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.
“Kiranya kegiatan ini memberikan dampak positif kepada para warga binaan sehingga melalui bimbingan mental dari para pembicara dapat memperkuat nilai-nilai keimanan serta menanamkan nilai-nilai moral yang positif,” ujarnya.
Theodorus menilai kesiapan kembali ke masyarakat tidak hanya membutuhkan kondisi fisik, tetapi juga ketahanan mental dan spiritual. Karena itu, pembinaan selama berada di Lapas diharapkan mampu membantu warga binaan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
Dirangkaikan Rosh Hashanah
Bimbingan mental spiritual tersebut juga dirangkaikan dengan Ibadah Rosh Hashanah atau Hari Raya Peniupan Nafiri.
Momentum tersebut menjadi bagian dari kegiatan pembinaan keagamaan bagi warga binaan Kristen sekaligus ruang untuk memperkuat iman dan membangun harapan terhadap kehidupan yang akan dijalani ke depan.
Theodorus mengajak para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara sungguh-sungguh dan menjadikan pembinaan tersebut sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan dalam kehidupan.
Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Theodorus dengan ibadah pembukaan.
“Dengan demikian saya mengajak para hadirin bangkit berdiri untuk secara bersama-sama membuka secara resmi kegiatan Bimbingan Mental sekaligus Ibadah Rosh Hashanah, Hari Raya Peniupan Nafiri, bagi para warga binaan Lapas Biak. Hari ini kegiatan ini resmi kita buka di dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus,” katanya.
Kegiatan itu dihadiri petugas Lapas Kelas II B Biak Numfor, pimpinan Yayasan Surbabo, pengurus Jaringan Doa Sekota serta para pendeta dan gembala yang memberikan materi pembinaan.
Kemenag Biak Numfor mendorong kolaborasi pelayanan keagamaan tersebut terus diperkuat sehingga pembinaan warga binaan dapat berjalan secara berkelanjutan, terutama dalam membangun ketahanan mental, memperkuat kehidupan spiritual dan mempersiapkan mereka kembali menjalani kehidupan bersama keluarga dan masyarakat.(Rilis)









