Jayapura,Papuaterdepan.com – Puluhan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa dan Pemuda Papua Peduli Rakyat (KMP3R) menyuarakan komitmen untuk mendorong Papua yang lebih damai, maju, dan sejahtera melalui aksi Mimbar Bebas di kawasan Lingkaran Abepura, Kota Jayapura, Rabu (30/9/2026).
Mengusung tema “Papua Bicara Masa Depan, Bukan Konflik Masa Lalu”, aksi tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyampaikan aspirasi terkait pembangunan daerah, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, penguatan ekonomi masyarakat, serta pentingnya perlindungan terhadap warga sipil di Papua.
Dalam orasinya, para peserta menilai masa depan Papua harus dibangun melalui kerja nyata dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, bukan dengan mempertahankan narasi konflik yang berkepanjangan.
Sejumlah tokoh KMP3R, di antaranya Rando Ridamaga, Paul Ohee, dan Ruswanto Narwawan, secara bergantian menyampaikan pandangan mengenai peran strategis pemuda dalam menjaga stabilitas daerah sekaligus mengawal pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.
Ketua KMP3R Paul Ohee kemudian membacakan pernyataan sikap organisasi yang menegaskan komitmen terhadap nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Menurutnya, momentum 1 Oktober harus dimaknai sebagai pengingat pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman serta berbagai tantangan yang dihadapi Papua saat ini.
Selain menegaskan komitmen kebangsaan, KMP3R juga mendorong pemerintah untuk terus mempercepat pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan perlindungan hak-hak Orang Asli Papua (OAP).
Mereka menilai keberhasilan pembangunan di Papua tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat dan terbukanya peluang yang lebih luas bagi generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, KMP3R juga mengajak mahasiswa dan pemuda Papua menjadi agen perdamaian dengan menolak penyebaran informasi yang menyesatkan, provokasi, maupun tindakan yang berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan dan ditutup dengan seruan bersama agar Papua terus bergerak menuju masa depan yang aman, damai, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat.(Naldo)









