Jayapura, Papuaterdepan.com– Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua diajak menjadikan nilai integritas, kesetiaan, dan ketekunan sebagai fondasi utama dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan dalam Ibadah Oikumene yang berlangsung di Rumah Doa “Imanuel” Kanwil Kemenag Papua, Jayapura. Renungan yang dibawakan Pendeta Evarista Dhinar Binugraheni mengangkat kisah kehidupan Yusuf dalam Kejadian 39 sebagai refleksi bagi ASN dalam menghadapi berbagai tantangan pekerjaan dan kehidupan.
Menurut Evarista, perjalanan hidup Yusuf menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh situasi yang nyaman, melainkan oleh sikap hati yang tetap teguh saat menghadapi ujian.
Ia menjelaskan Yusuf mengalami berbagai peristiwa sulit sejak usia muda. Dari anak yang dikasihi keluarganya, ia harus menerima kenyataan dijual sebagai budak dan hidup jauh dari kampung halamannya. Namun keadaan tersebut tidak membuat Yusuf kehilangan semangat maupun karakter yang baik.
“Kisah Yusuf mengajarkan bahwa keadaan boleh berubah, tetapi karakter dan iman tidak boleh ikut berubah. Ketika seseorang tetap setia menjalani tanggung jawabnya, akan ada jalan yang dibukakan Tuhan pada waktunya,” katanya.
Dalam renungan tersebut, ASN diajak untuk memandang setiap tugas dan tanggung jawab sebagai kesempatan menunjukkan dedikasi terbaik, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.
Menurutnya, keberhasilan Yusuf di rumah Potifar lahir dari kesungguhannya bekerja dan kemampuannya menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya. Sikap itu dinilai relevan dengan tantangan pelayanan publik yang menuntut profesionalisme dan akuntabilitas.
Selain menekankan etos kerja, Evarista juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas di tengah berbagai godaan yang dapat muncul dalam kehidupan maupun pekerjaan.
Ia mengatakan integritas merupakan nilai yang harus terus dipertahankan karena menjadi cerminan kualitas seseorang sebagai pelayan masyarakat.
“Kejujuran dan integritas sering kali diuji ketika tidak ada orang yang melihat. Justru pada saat itulah karakter seseorang benar-benar terlihat,” ujarnya.
Menurut dia, ASN tidak hanya dituntut memiliki kompetensi dan kemampuan teknis, tetapi juga karakter yang kuat agar mampu menjalankan amanah dengan baik.
Dalam kesempatan itu, Evarista juga menyoroti kisah Yusuf yang harus menghadapi fitnah hingga dipenjara meskipun tidak melakukan kesalahan. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa melakukan hal yang benar tidak selalu berujung pada penghargaan atau pengakuan dari manusia.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa setiap proses kehidupan memiliki makna dan tujuan yang lebih besar, sehingga seseorang tidak boleh mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Kadang-kadang jalan yang benar justru terasa lebih berat. Tetapi ketekunan dan kesabaran akan membentuk pribadi yang semakin kuat dan matang,” katanya.
Ia mengajak seluruh ASN Kanwil Kemenag Papua untuk terus menjaga semangat melayani, membangun hubungan kerja yang sehat, serta menghadirkan nilai-nilai keteladanan dalam lingkungan kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, pelayanan yang baik tidak hanya diukur dari capaian program dan target kinerja, tetapi juga dari sikap, etika, dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui kegiatan pembinaan rohani tersebut, ASN diharapkan semakin termotivasi untuk menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab serta menjadi teladan dalam membangun budaya kerja yang profesional, harmonis, dan berintegritas.
Ibadah Oikumene yang rutin dilaksanakan Kanwil Kemenag Papua menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai spiritualitas ASN agar tetap memiliki keseimbangan antara kompetensi profesional dan karakter moral dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.(Rilis)









