Jayapura,Papuaterdepan.com– Perkembangan teknologi digital mendorong Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua, Densus 88 Antiteror Polri dan Dinas Pendidikan Provinsi Papua memperkuat edukasi kepada pelajar sebagai bagian dari upaya mencegah radikalisme, terorisme dan intoleransi.
Ketiga pihak membahas langkah tersebut dalam audiensi di ruang kerja Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Selasa (8/9/2026).
Pertemuan itu menyoroti pentingnya memberikan pemahaman kepada pelajar sekaligus memperkuat peran guru dan orang tua dalam menghadapi derasnya arus informasi melalui internet dan media sosial.
Tim Satgaswil Densus 88 Papua, Bripka Andika Pratama, mengatakan pencegahan perlu dilakukan sejak dini dengan melibatkan lingkungan yang berinteraksi langsung dengan anak.
Menurut dia, upaya tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada satu institusi karena pembentukan pemahaman anak juga dipengaruhi keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat.
“Dengan kerja sama ini, kami berharap dapat membuat satu kegiatan yang memberikan informasi dan edukasi kepada para orang tua, tenaga pengajar, dan anak-anak kita, supaya mereka memahami bahwa fenomena ini ada dan harus kita waspadai bersama,” ujarnya.
Andika mengatakan keterlibatan psikolog, tenaga pendidik, orang tua dan masyarakat diperlukan agar pendekatan pencegahan dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting seiring tingginya penggunaan internet dan media sosial di kalangan anak dan remaja. Berbagai informasi yang muncul di ruang digital membutuhkan kemampuan untuk memilah, memahami dan menyikapinya secara tepat.
### Kemenag Siapkan Pendekatan Edukatif
Kepala Bidang Urusan Agama Kristen Kanwil Kemenag Papua Tonny Deny Sahertian mengatakan Kemenag siap mengambil bagian dalam upaya pencegahan dengan mengedepankan edukasi dan kerja sama lintas lembaga.
Ia mengatakan penguatan pemahaman mengenai kehidupan beragama perlu melibatkan guru, orang tua, tokoh agama, FKUB serta pelajar.
“Kementerian Agama merasa prihatin terhadap fenomena yang terjadi. Karena itu, kami rasa perlu merangkul berbagai pihak, termasuk FKUB, guru, orang tua, dan siswa untuk memberikan edukasi bersama,” katanya.
Menurut Tonny, edukasi tidak hanya diberikan ketika muncul persoalan, tetapi perlu menjadi bagian dari upaya membangun daya tangkal generasi muda.
Salah satu bentuk kegiatan yang sedang dibahas adalah talk show edukatif yang menghadirkan ruang dialog bagi pelajar, guru, orang tua dan masyarakat.
Materi kegiatan nantinya diarahkan pada pemahaman mengenai radikalisme, terorisme dan intoleransi sekaligus langkah pencegahan yang dapat dilakukan di lingkungan masing-masing.
Untuk memperluas jangkauan informasi, media penyiaran seperti TVRI Papua dan RRI Jayapura juga dipertimbangkan sebagai sarana penyebarluasan materi edukasi.
### Sekolah Jadi Ruang Pencegahan
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Marthen Medlama mengatakan sekolah memiliki peran penting karena menjadi salah satu lingkungan utama tempat anak memperoleh pendidikan dan membentuk karakter.
Ia menyambut baik rencana kerja sama tersebut dan menilai informasi mengenai berbagai ancaman terhadap generasi muda perlu diberikan sebelum persoalan berkembang.
“Kita akan berkolaborasi untuk menyampaikan informasi dan edukasi kepada anak-anak kita sehingga paling tidak mereka mendapatkan informasi sejak awal. Jangan sampai sudah terjadi baru kita bersiap,” ujarnya.
Marthen mengatakan langkah pencegahan perlu dikembangkan melalui kerja sama yang berkelanjutan, tidak hanya dalam bentuk kegiatan formal.
Menurut dia, koordinasi dapat melibatkan pemerintah, sekolah, aparat keamanan, tokoh agama, keluarga serta lembaga terkait lainnya agar pesan edukasi dapat disampaikan secara konsisten.
Kolaborasi tersebut juga diharapkan membantu guru dan orang tua memahami tantangan yang dihadapi anak di era digital, sehingga pendampingan dapat dilakukan secara lebih tepat.
Pertemuan tersebut menjadi awal pembahasan bagi Kanwil Kemenag Papua, Satgaswil Densus 88 Papua dan Dinas Pendidikan Provinsi Papua untuk merumuskan kegiatan edukasi bersama.
Langkah itu diarahkan untuk memperkuat peran sekolah dan keluarga dalam membangun pemahaman pelajar mengenai toleransi, moderasi beragama serta penggunaan media digital secara bijak.
Dengan pendekatan yang melibatkan berbagai unsur, pencegahan diharapkan dapat dilakukan sejak dini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman, terbuka dan menghargai keberagaman.(Rilis)









