Malang,inbrek.com— Kontingen Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Provinsi Papua tiba di Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa malam (29/9/2026). Mereka datang bukan hanya untuk mengikuti perkemahan, tetapi juga membawa pesan tentang persaudaraan, pembentukan karakter, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Perjalanan kontingen Papua menuju Malang ditempuh melalui sejumlah titik transit, yakni Bandar Udara Sentani, Timika, Denpasar, hingga Surabaya.
PPSN VI 2026 mengusung tema “Pramuka Santri Nusantara: Membentuk Karakter, Merawat Lingkungan, Meneguhkan Kebangsaan, dan Berdaya Saing Global.”
Tema tersebut kemudian diterjemahkan melalui konsep “Santri Indonesia Menjaga Alam” (SI MALA) yang menjadi salah satu identitas kegiatan.
Ketua Tim Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua, Yeniek Yuli Kurniawati, mengatakan keikutsertaan kontingen Papua menjadi kesempatan bagi para santri untuk belajar dalam lingkungan yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah.
“Bukan sekadar untuk berkemah. Kita berkumpul untuk membuktikan bahwa santri adalah generasi yang tangguh, disiplin, dan mampu berkarya,” kata Yeniek.
Ia mengatakan kontingen Papua juga membawa semangat toleransi, persaudaraan dan kebinekaan selama mengikuti kegiatan.
“Kami datang bukan hanya membawa nama Papua, tetapi juga membawa semangat toleransi, persaudaraan, dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Menurut Yeniek, pengalaman selama PPSN diharapkan mampu memperkuat mental santri melalui praktik disiplin, tanggung jawab, kebersamaan dan kemandirian.
Ekoteologi Tak Sekadar Tema
PPSN VI menjadikan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari peserta. Ekoteologi tidak hanya diperkenalkan melalui materi, tetapi diterapkan dalam tata tertib kehidupan di area perkemahan.
Peserta diwajibkan menjaga kebersihan lingkungan, memilah sampah, membawa peralatan makan dan minum pribadi serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Mereka juga diarahkan menghemat air dan energi, menjaga flora dan fauna, serta memastikan area tenda tetap bersih.
Di dapur regu, peserta diminta memasak sesuai kebutuhan untuk menekan timbulan sampah makanan. Minyak jelantah harus dikelola dengan benar, sementara sampah organik dapat diolah menjadi kompos.
Penggunaan api unggun juga diatur agar berlangsung pada lokasi yang telah ditentukan dan tetap memperhatikan keselamatan serta kelestarian lingkungan.
Sejumlah agenda khusus disiapkan untuk memperkuat pemahaman peserta tentang ekoteologi, seperti Tadabbur Alam, Gerakan Bersih Kawasan, Penanaman Pohon, Audit Sampah, dan Workshop Ekoteologi.
Setiap kelompok juga diminta mendokumentasikan aksi lingkungan yang mereka lakukan selama perkemahan.
Yeniek menegaskan pembentukan karakter santri harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“Tunjukkan bahwa santri adalah generasi yang tidak hanya mampu berdoa, tetapi juga mampu berusaha, berkarya, dan menjaga alam,” katanya.
Melalui PPSN VI, para santri diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman kepramukaan, tetapi juga membawa pulang kebiasaan menjaga lingkungan sebagai bagian dari akhlak dan tanggung jawab sosial.(Rilis)









