Jayapura, Papuaterdepan.com – Penguatan integritas, kepedulian terhadap sesama, dan semangat melayani masyarakat menjadi pesan utama dalam Ibadah Rutin Oikumene Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua di Aula Sasana Krida Bhakti, Senin (21/9/2026).
Penyuluh Agama Katolik Kanwil Kemenag Papua, Yosephina Tiert, yang memimpin ibadah tersebut mengajak para Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan dalam membangun sikap profesional dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Dalam refleksinya mengenai kisah panggilan Rasul Matius, Yosephina menyoroti pentingnya keterbukaan terhadap perubahan. Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengambil bagian dalam pekerjaan yang membawa manfaat bagi orang lain.
Ia menjelaskan, kisah Matius yang dipanggil Yesus meskipun memiliki latar belakang sebagai pemungut cukai menunjukkan bahwa masa lalu bukanlah penghalang untuk berubah dan melakukan kebaikan.
Nilai tersebut, katanya, relevan dengan kehidupan ASN yang memiliki tanggung jawab memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai tugas masing-masing.
Yosephina juga mengingatkan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Sikap malas, egois, kurang peduli, serta kebiasaan menghakimi orang lain perlu ditinggalkan agar tercipta lingkungan kerja yang sehat dan harmonis.
Menurutnya, setiap pegawai memiliki kesempatan untuk memperbaiki perilaku dan membangun hubungan yang lebih baik dengan rekan kerja maupun masyarakat yang dilayani.
Selain perubahan pribadi, ia menekankan pentingnya belas kasih dalam pelaksanaan tugas, terutama bagi ASN Kemenag yang turut berperan dalam menjaga kehidupan keagamaan dan kerukunan masyarakat.
Belas kasih, lanjutnya, tidak cukup hanya diungkapkan melalui perkataan, tetapi harus tercermin dalam tindakan, seperti kesediaan mendengarkan, menghormati perbedaan, membantu sesama, memaafkan, dan bekerja sama.
Di tengah keberagaman masyarakat Papua, sikap saling menghargai menjadi bagian penting dalam memelihara persaudaraan. Perbedaan keyakinan, menurut Yosephina, semestinya menjadi ruang untuk memperkuat penghormatan dan membangun kehidupan bersama yang damai.
Ia kemudian mengajak para ASN meninggalkan pola pikir yang hanya berorientasi pada kepentingan pribadi dan beralih pada semangat pengabdian.
Melalui gambaran perpindahan dari “meja cukai” menuju “meja pelayanan”, Yosephina mengingatkan bahwa pekerjaan harus dijalankan dengan kejujuran, tanggung jawab, dan integritas.
Ia mendorong setiap pegawai mengevaluasi pelaksanaan tugasnya, termasuk memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan memberikan manfaat nyata dan tidak merugikan orang lain.
“Melalui tugas dan pelayanan kita di Tanah Papua ini, kiranya masyarakat dapat merasakan bahwa Kementerian Agama sungguh hadir membawa damai, kerukunan, keadilan, dan kebaikan bersama,” ujarnya.
Yosephina berharap pesan dalam ibadah tersebut dapat diterapkan dalam keseharian para pegawai, sehingga pelayanan Kemenag tidak hanya berorientasi pada penyelesaian pekerjaan administratif, tetapi juga menghadirkan kepedulian dan manfaat bagi masyarakat.
Ibadah Oikumene yang diikuti pegawai Kristen dan Katolik di lingkungan Kanwil Kemenag Papua itu berlangsung khidmat dan diakhiri dengan pengakuan iman bersama.(Rilis)









