Jayapura, Papuaterdepan.com — Mengawali pekan kerja dengan berserah diri, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua kembali menggelar Ibadah Oikumene rutin. Ibadah yang bertempat di Rumah Doa Imanuel Kanwil Kemenag Papua ini dipimpin oleh Sri Herlina Bangun dari Bidang Urusan Agama Kristen pada Senin (18/05/2026).
Ibadah berlangsung khidmat dengan diisi puji-pujian bersama, persembahan lagu dari Bidang Urusan Agama Kristen serta Sekretariat Jenderal, dan ditutup dengan doa bersama untuk para korban konflik di wilayah pegunungan Papua.
Sentuhan Humor di Awal Renungan: “Lapar” akan Roh Kudus
Mengawali khotbahnya, Sri Herlina Bangun mencairkan suasana dengan melemparkan pertanyaan jenaka yang disambut tawa hangat para pegawai yang hadir.
“Syalom, selamat pagi menjelang siang. Apakah Bapak Ibu ada yang sudah merasakan lapar? Saya sendiri sudah mulai lapar,” candanya hangat.
Kelakar tersebut rupanya menjadi jembatan bagi Sri untuk masuk ke inti renungan. Ia menjelaskan bahwa pasca-peringatan Kenaikan Yesus Kristus dan menjelang hari Pencurahan Roh Kudus (Pentakosta) pada 24 Mei mendatang, tubuh dan jiwa setiap umat Kristiani sudah sepatutnya merasa “lapar dan haus” akan kehadiran Roh Kudus.
Menjadi Saksi Kristus di Lingkungan Kerja dan Gereja
Melalui pembacaan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Para Rasul 1:8, Sri mengajak seluruh ASN untuk merefleksikan makna kata “saksi” dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sebagai pelayan masyarakat.
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Sri menekankan bahwa seorang saksi adalah mereka yang mengetahui dan mengalami sendiri suatu peristiwa iman bersama Tuhan. Pengalaman hidup itulah yang harus terpancar saat menjalankan tugas sehari-hari.
“Bapak Ibu, kita ini kan sudah mempunyai pengalaman iman dengan Tuhan. Mari kita jadi saksi Kristus dengan tuntunan Roh Kudus atas apa saja yang kita perbuat, baik dalam pekerjaan di kantor maupun dalam persekutuan di Gereja,” pesan Sri secara mendalam.
Implementasi Nyata Lewat 9 Buah Roh
Lebih lanjut, Sri mengingatkan bahwa memaknai kehadiran Roh Kudus bukan sekadar rutinitas perayaan tahunan semata. Kehadiran Roh Kudus harus termanifestasi nyata melalui karakteristik hidup yang tertulis dalam Galatia 5:22-23 mengenai sembilan Buah Roh, yaitu:
Kasih, sukacita, dan damai sejahtera.
Kesabaran, kemurahan, dan kebaikan.
Kesetiaan, kelemahlembutan, serta penguasaan diri.
“Hidup kita harus dipenuhi dengan hal-hal baik tersebut, dan untuk bisa mempraktikkannya, kita butuh Roh Kudus, Bapak Ibu. Mari arahkan hati dan pikiran kita untuk menerima Roh Kudus dan menjadi saksi Kristus,” pungkas Sri mengakhiri perenungannya.(Rilis)









