JAYAPURA, Papuaterdepan.com – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua, Klemens Taran, mengikuti Breakfast Meeting strategis yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama RI secara daring dari Jayapura, Selasa (2/12/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Agama menekankan urgensi penguatan program Ekoteologi—pendekatan pelestarian lingkungan melalui perspektif nilai-nilai keagamaan—sebagai prioritas nasional 2025–2029.
Menanggapi arahan pusat, Kakanwil Klemens Taran menegaskan kesiapannya untuk menerjemahkan kebijakan tersebut ke dalam aksi nyata di Bumi Cenderawasih. Menurutnya, rentetan bencana ekologis yang terjadi belakangan ini harus menjadi peringatan keras bagi umat beragama.
“Isu lingkungan tidak boleh dipandang sebelah mata. Karena itu, seluruh satuan kerja Kemenag diminta menjadikannya sebagai fokus gerakan bersama,” tegas Klemens usai pertemuan.
Aksi Nyata: Bersih Sungai hingga Tanam Pohon
Klemens menjelaskan, instruksi Menag sangat jelas: Kemenag harus memiliki praktik baik (best practice) yang berdampak langsung. Di Papua, hal ini akan diwujudkan melalui kegiatan konkret yang melibatkan tokoh agama dan masyarakat.
“Praktik baik tersebut akan kami terjemahkan ke dalam aksi nyata di daerah, seperti menanam pohon, membersihkan rumah ibadah, menjaga kebersihan sungai, dan berbagai bentuk kepedulian sosial-lingkungan lainnya,” jelasnya.
Menag sendiri dalam arahannya menyebut bahwa tanpa “bahasa agama”, kesadaran ekologis sulit berkembang secara masif di masyarakat. Oleh karena itu, Kemenag harus menjadi motor penggerak pembaruan ekoteologi di Indonesia.
Persiapan Rakernas 2025
Selain isu lingkungan, pertemuan yang turut dihadiri Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Papua, Musa Narwawan, ini juga membahas persiapan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag yang akan digelar pada 10–12 Desember 2025.
Rakernas nanti akan mengusung tema “Mempersiapkan Umat Masa Depan”. Klemens berharap forum tersebut dapat menghadirkan narasumber berkompeten yang mampu menjawab pergumulan umat saat ini.
“Menag meminta adanya penguatan peran Kemenag dalam merespons isu-isu kemanusiaan. Dua hal yang kembali ditekankan ialah penguatan kerukunan (Kurikulum Cinta) dan ekoteologi,” pungkas Klemens.(rilis)









