SARMI,Papuaterdepan.com— Peringatan Hari Tani Nasional di Kabupaten Sarmi menjadi momentum bagi masyarakat adat untuk memperkuat komitmen menjaga ketahanan pangan berbasis kampung. Dalam Diskusi Adat Ketahanan Pangan Berbasis Lumbung Desa yang digelar di Kampung Bagaiserwar, Distrik Sarmi, Selasa (22/9/2026), Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Sarmi Frans Sawen mengajak seluruh elemen masyarakat mengambil peran aktif dalam membangun kemandirian pangan dari tingkat kampung.
Menurut Frans, ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang ketersediaan bahan makanan, tetapi juga menyangkut kemampuan masyarakat menjaga keberlanjutan sumber pangan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat Papua.
Ia menilai kampung-kampung di Papua memiliki potensi besar untuk menjadi pusat produksi pangan apabila dikelola secara baik melalui kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan para pemangku kepentingan lainnya.
“Dari kampung sebenarnya kekuatan pangan itu dibangun. Kita memiliki lahan, sumber daya alam, dan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun. Semua itu harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemandirian masyarakat,” kata Frans.
Dalam forum tersebut, Frans juga menyoroti pentingnya keberadaan lumbung desa sebagai instrumen menjaga cadangan pangan masyarakat. Menurutnya, konsep lumbung pangan yang telah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat adat perlu dihidupkan kembali sebagai bagian dari strategi menghadapi berbagai tantangan, termasuk perubahan cuaca, gangguan distribusi, maupun peningkatan kebutuhan pangan.
Ia mengatakan penguatan lumbung desa dapat menjadi langkah nyata untuk memastikan setiap kampung memiliki cadangan pangan yang cukup sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan hasil pertanian secara lebih terencana.
Selain mendorong penguatan pangan dari tingkat kampung, Frans menyatakan dukungannya terhadap Program Strategis Nasional (PSN) Food Estate yang dikembangkan pemerintah di Kabupaten Merauke. Ia menilai program tersebut merupakan salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus membuka peluang pengembangan sektor pertanian di Papua.
Menurutnya, apabila dikelola secara tepat dan melibatkan masyarakat setempat, program tersebut berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui peningkatan produksi pangan, pembukaan lapangan kerja, serta tumbuhnya aktivitas usaha di sektor pertanian.
Meski demikian, Frans mengingatkan bahwa pembangunan kawasan pangan berskala besar harus tetap menghormati hak-hak masyarakat adat dan memperhatikan keberadaan pemilik hak ulayat di wilayah yang menjadi lokasi pengembangan program.
Ia menegaskan pentingnya pendekatan dialogis dan musyawarah agar setiap program pembangunan dapat diterima masyarakat dan berjalan tanpa mengabaikan nilai-nilai adat yang telah dijaga secara turun-temurun.
“Pembangunan harus berjalan bersama masyarakat adat. Hak ulayat harus dihormati, masyarakat harus dilibatkan, dan lingkungan harus tetap dijaga. Dengan cara itu manfaat pembangunan bisa dirasakan bersama,” ujarnya.
Frans juga mengajak generasi muda Papua untuk mulai melihat sektor pertanian sebagai bidang yang memiliki prospek besar dalam mendukung perekonomian keluarga maupun daerah. Menurutnya, keterlibatan pemuda menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di masa mendatang.
Ia berharap semangat Hari Tani Nasional dapat mendorong lahirnya gerakan bersama untuk memanfaatkan lahan produktif, mengembangkan komoditas lokal, memperkuat kelompok tani, dan meningkatkan produksi pangan di setiap kampung.
“Lumbung pangan bukan hanya urusan pemerintah. Ini tanggung jawab bersama. Kalau kampung kuat pangannya, maka masyarakat akan lebih mandiri dan sejahtera,” katanya.
Diskusi adat tersebut dihadiri oleh para kepala suku, ondoafi, tokoh masyarakat, kelompok tani, tokoh perempuan, dan pemuda dari sejumlah kampung di Kabupaten Sarmi.
Selain diskusi, kegiatan juga diisi dengan penyuluhan pertanian yang menghadirkan tenaga teknis dari Dinas Pertanian Kabupaten Sarmi. Materi yang diberikan meliputi pengelolaan lahan pertanian, peningkatan produktivitas tanaman, pemanfaatan bibit unggul, hingga strategi pengembangan pertanian berkelanjutan.
Pada akhir kegiatan, panitia menyerahkan bantuan bibit tanaman dan paket sembako kepada masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan berbasis kampung.
Melalui kegiatan tersebut, LMA Sarmi berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ketahanan pangan semakin meningkat, sekaligus mendorong terbangunnya sistem pangan yang kuat dengan tetap berpijak pada nilai adat, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Papua.









