Papuaterdepancom, Jayapura – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Papua memperingati Pekan ASI Sedunia 2025 dengan menggelar edukasi menyusui bagi kader Kawasan Sehat dari Kampung Bagia Pir 3 dan Kampung Yanamaa Pir 1. Kegiatan berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom, Rabu, 20 Agustus 2025.
Kepala LKC Dompet Dhuafa Papua, Tumijan mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif pada bayi sejak lahir hingga enam bulan, dilanjutkan dengan makanan pendamping hingga usia dua tahun. “Kader menjadi ujung tombak dalam mendampingi ibu menyusui dan memastikan informasi sampai langsung ke masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, para kader juga dibekali pengetahuan mengenai kandungan nutrisi ASI, teknik menyusui yang tepat sejak bayi baru lahir, hingga pendampingan bagi ibu hamil agar siap menyusui setelah melahirkan. Materi lain yang disampaikan mencakup dampak negatif jika bayi tidak diberi ASI eksklusif dan risiko penggunaan susu formula.
Menurut Tumijan, kendala terbesar di lapangan masih banyak bayi di bawah enam bulan sudah diberi makanan atau minuman tambahan. Padahal, ASI dinilai cukup memenuhi kebutuhan nutrisi bayi pada usia tersebut.
LKC Dompet Dhuafa Papua berharap masyarakat kampung benar-benar melaksanakan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan penuh. Setelah itu, anak diharapkan memperoleh asupan gizi tambahan melalui makanan pendamping agar berat badan dan tinggi badan bertumbuh optimal.
Kepala Dinas Kesehatan Keerom, dr. Bernadette Ekasoeci, menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena melibatkan kader kampung yang dekat dengan ibu dan balita. “Para kader inilah yang akan memberikan penyuluhan langsung kepada masyarakat. Peran mereka sangat penting dalam mendorong pemberian ASI bagi pertumbuhan bayi dan balita,” katanya.
Bernadette menjelaskan, pemberian ASI berperan besar dalam pencegahan stunting. “Stunting biasanya terjadi karena asupan gizi yang kurang. Dengan ASI, bayi mendapat gizi yang bermanfaat bagi pertumbuhan tinggi badan dan perkembangan mereka. Jadi kegiatan ini jelas mendukung penurunan angka stunting,” ujarnya.
Namun, ia mengakui tantangan terbesar ada pada ketersediaan pangan bergizi bagi ibu menyusui, terutama di kampung-kampung perbatasan. “Kualitas ASI sangat dipengaruhi gizi ibu. Di daerah perbatasan, pangan lokal yang bergizi masih terbatas,” katanya.
Saat ini, Dinas Kesehatan Keerom belum memiliki program khusus pemberian makanan tambahan bagi ibu menyusui. Bantuan PMT diberikan pada ibu hamil melalui dana BOK puskesmas, sedangkan dukungan bagi penanganan stunting biasanya dialokasikan dinas. “Untuk ibu menyusui, ada kemungkinan ke depan akan dialokasikan, sementara bantuan khusus seperti susu biasanya datang dari Dinas Kesehatan Provinsi,” ujarnya.
Bernadette berpesan agar para ibu memberikan ASI eksklusif enam bulan pertama dan melanjutkan hingga anak berusia dua tahun. “ASI bukan hanya soal nutrisi, tetapi juga membangun ikatan kasih sayang antara ibu dan anak,” katanya.









