Papuaterdepancom, Jayapura – Motivator asal Papua, Jose Ohei, menekankan pentingnya kembali ke budaya sebagai fondasi dalam membangun karakter generasi muda. Menurutnya, budaya Papua yang kaya filosofi dapat menjadi kunci keberhasilan anak muda agar tidak mudah terprovokasi maupun dieksploitasi.
“Anak Papua harus temukan kekuatannya supaya tidak gampang terprovokasi, tidak dieksploitasi, dan bisa punya komitmen tinggi untuk konsisten kuliah maupun bekerja. Caranya kembali ke budaya, karena filosofi budaya Papua kaya sekali,” ujar Jose dalam diskusi di Asrama Pegunungan Bintang, Waena, Kota Jayapura, Senin (25/8/2025).
Lebih lanjut, Jose menjelaskan pendekatan yang ia gunakan adalah back to the culture atau kembali ke budaya. Ia meyakini, anak muda Papua lebih mudah menerima pelajaran hidup bila disampaikan melalui nilai yang sudah mereka kenal.
“Bagi saya, itu cara terbaik untuk mengajar anak Papua. Pakai apa yang mereka kenal. Kita bahas kerja keras, berpikir kritis, membangun karakter semua dengan benang merah yang sama, yaitu filosofi budaya masing-masing,” katanya.
Menurut Jose, salah satu tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah konsistensi. Banyak anak muda, katanya, kehilangan arah karena terpengaruh lingkungan atau tekanan sosial. “Kalau kita punya akar budaya yang kuat, kita tidak akan gampang goyah. Budaya menuntun kita untuk disiplin, kerja keras, dan menghargai sesama,” ujarnya.
Jose menuturkan, ia kerap menggunakan kisah dan filosofi lokal Papua dalam memberi motivasi. Misalnya, ia mengangkat nilai kerja keras dari cerita leluhur yang berjuang membuka kebun, atau nilai disiplin yang diwariskan dalam tradisi berburu. “Itu yang saya sampaikan ke adik-adik. Bahwa semua hal sudah ada di dalam budaya kita. Tinggal bagaimana kita mau pakai itu sebagai pedoman hidup,” katanya.
Diskusi bertema “Peran Penting Budaya dalam Kemajuan Papua” itu dihadiri puluhan mahasiswa. Sejumlah peserta mengaku terinspirasi dengan cara Jose mengaitkan nilai budaya dengan prinsip hidup sehari-hari, mulai dari konsistensi belajar hingga membangun komitmen dalam berorganisasi.
Pembina Asrama Pegunungan Bintang, Fidelis mengatakan kegiatan ini dimaksudkan untuk memberi ruang refleksi kepada mahasiswa agar tidak melupakan akar budayanya. “Kami ingin adik-adik melihat budaya bukan hanya simbol, tetapi kekuatan untuk membangun Papua,” ujarnya.
Jose menutup sesi diskusi dengan ajakan kepada mahasiswa untuk tidak takut bersaing selama berpegang pada budaya. “Budaya adalah fondasi. Kalau akar budaya kuat, maka pembangunan Papua tidak akan tercerabut dari jati dirinya,” katanya.









