Papuaterdepancom, Jayapura – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Papua menggelar Pelatihan Kader Kawasan Sehat di Kampung Yanamaa, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, pada Rabu, 22 Mei 2025. Sebanyak 16 kader kesehatan dari kampung tersebut mengikuti pelatihan yang bertujuan memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan dasar di masyarakat.
Pelatihan ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom, Puskesmas Arso, Kepala Kampung Yanamaa. Program ini merupakan bagian dari komitmen LKC Dompet Dhuafa Papua dalam menciptakan Kawasan Sehat berbasis komunitas.
“Kami mengembangkan tujuh indikator Kawasan Sehat, mulai dari Kesehatan ibu dan anak, eliminasi stunting, sanitasi lingkungan, kesehatan mental dan spiritual, pengendalian penyakit tidak menular, Pengendalian TBC. Kader menjadi ujung tombak dalam semua proses ini,” ujar Koordinator LKC Dompet Dhuafa Papua, Tumijan, di sela kegiatan.
Ia menambahkan, kader kesehatan berperan penting mendeteksi dini penyakit, mengedukasi masyarakat, serta menjadi penghubung dengan fasilitas kesehatan. “Jangan sampai warga merasa sehat, padahal sebenarnya punya tekanan darah tinggi atau diabetes yang tidak terdeteksi. Di sinilah peran penting Posbindu dan kader,” ujarnya.
Kepala Kampung Yanamaa, Timotius AP, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran LKC di kampungnya. Ia berharap pelatihan ini menjadi awal transformasi kesehatan masyarakat Yanamaa. “Kami sangat mendukung program ini karena kesehatan adalah kunci utama masyarakat bisa bekerja dan berusaha. Kami ingin kader-kader kami menjadi profesional dan tangguh,” kata Timotius.
Ia menyebut Kampung Yanamaa memiliki 443 kepala keluarga dan 1.284 jiwa. Ia berharap para kader yang sudah dibina bisa mendapat pelatihan lanjutan, termasuk penguasaan sistem digital agar laporan kesehatan bisa disampaikan lebih cepat dan akurat kepada instansi terkait.
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom, Lervianna Sitanggang, menegaskan pentingnya keberadaan kader sebagai perpanjangan tangan layanan kesehatan. “Kader adalah jembatan kami dengan masyarakat. Mereka yang paling mengenal karakter warga dan menjadi ujung tombak edukasi serta deteksi dini,” ujar Lervianna.
Ia mengakui masih ada tantangan dalam pemberdayaan kader, seperti keterbatasan insentif dan waktu pelatihan yang menyita perhatian keluarga. “Rata-rata kader kita adalah ibu rumah tangga. Untuk pelatihan seminggu penuh, mereka butuh izin dan dukungan keluarga,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengapresiasi semangat para kader di Keerom yang tetap konsisten memberikan pelayanan. “Evaluasi dilakukan setiap bulan melalui posyandu. Di situlah kami memantau keberlanjutan kinerja kader setelah pelatihan,” tuturnya.
Kabupaten Keerom sendiri memiliki 12 puskesmas dan 91 kampung, dengan lebih dari 380 kader aktif yang merangkap tugas sebagai kader posyandu, malaria, hingga posbindu.
Pelatihan 16 kader kesehatan ini diharapkan memperkuat sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga sosial dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Papua, khususnya di wilayah pedalaman.









