JAYAPURA,Papuaterdepan.com – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua menggandeng civitas akademika Universitas Cenderawasih (UNCEN) dalam upaya merawat kerukunan umat beragama.
Upaya ini diwujudkan melalui sosialisasi “Kurikulum Cinta” dan Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini konflik sosial berdimensi keagamaan yang digelar di Auditorium Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNCEN, Rabu (3/12/2025).
Kepala Kanwil Kemenag Papua, Klemens Taran, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Oleh karena itu, penanaman nilai cinta kasih, toleransi, dan empati menjadi fondasi krusial di lingkungan kampus.
“Kurikulum Cinta ini bukan hanya konsep, tetapi harus menjadi budaya hidup dalam masyarakat. Terutama bagi generasi muda dan mahasiswa yang akan menjadi agen perubahan,” ujar Klemens di hadapan peserta.
Tantangan Era Digital dan EWS
Klemens menyoroti tantangan sosial yang kian kompleks di era digital, seperti disinformasi, provokasi, dan ujaran kebencian yang dapat memicu polarisasi.
Untuk itu, Kemenag memperkenalkan instrumen EWS. Sistem ini dirancang agar mahasiswa memiliki kepekaan sosial untuk mendeteksi gejala awal konflik sebelum membesar.
“Kita ingin mahasiswa memiliki kepekaan sosial, mampu membaca tanda-tanda awal konflik, dan bertindak bijak dengan mengedepankan dialog, bukan emosi,” tegasnya.
Ia berharap kampus dapat terus menjadi ruang pembentukan karakter moderat yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kebinekaan dalam bingkai NKRI.
Bentuk Mentalitas Anti-Kekerasan
Ketua Panitia Kegiatan, Alfons Septerius Amamehi, menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 60 mahasiswa lintas agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha) serta para dosen.
Tujuan utamanya adalah membentuk kesadaran kolektif bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan sosial.
“Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan karakter mahasiswa yang toleran, memperkuat kemampuan identifikasi potensi konflik, serta membentuk mentalitas anti-kekerasan, anti-diskriminasi, dan anti-ujaran kebencian,” jelas Alfons.
Acara yang berlangsung sehari penuh ini diisi dengan metode ceramah dan dialog interaktif bersama narasumber dari Kanwil Kemenag Papua serta penyuluh agama lintas iman. Sinergi ini diharapkan mampu mengokohkan komitmen persaudaraan di Kota Jayapura.(Rilis)









