BBKSDA Papua Dorong Kolaborasi Pengawasan Perdagangan Satwa Liar

- Redaksi

Jumat, 17 Oktober 2025 - 17:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Papuaterdepancom, Jayapura – Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, Johny Santoso, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengawasi peredaran tumbuhan dan satwa liar di Papua. Ia menyebut upaya pelestarian keanekaragaman hayati tak bisa dilakukan hanya oleh satu lembaga.

“Balai Besar KSDA Papua tidak bisa bekerja sendiri. Perlu partnership, perlu kolaborasi,” kata Johny usai membuka diskusi multipihak pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar di Kota Jayapura belum lama ini.

Menurut Johny, kolaborasi ini juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2023, yang memerintahkan berbagai kementerian, lembaga penegak hukum, hingga pemerintah daerah untuk bersama-sama melaksanakan pelestarian keanekaragaman hayati. “Artinya, pengawasan kehati ini menjadi program arus utama, yang harus dilakukan lintas sektor,” ujarnya.

Johny menyebut burung paruh bengkok seperti kakatua raja, kakatua koki, nuri, dan kasturi kepala hitam masih menjadi komoditas satwa liar yang paling sering diperdagangkan secara ilegal dari Papua. “Bahkan ada repatriasi dari Filipina. Itu menunjukkan masih banyak yang keluar dari Papua,” katanya.

Baca Juga :  Menag Nasaruddin ajak Umat Konghucu bersatu walapun beda keyakinan

Ia menjelaskan, tantangan utama pengawasan adalah pemahaman masyarakat tentang pentingnya pelestarian satwa liar. Karena itu, BBKSDA akan mengedepankan langkah persuasif dan edukatif sebelum penegakan hukum. “Kami mulai dari sosialisasi dan pengawasan bersama. Tapi bagi pelaku yang berulang, tentu harus ada tindakan hukum agar ada efek jera,” kata Johny.

Motif ekonomi, menurutnya, menjadi pendorong utama masyarakat terlibat dalam perdagangan satwa liar. “Ini PR semua sektor, bagaimana memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat,” ujarnya.

Untuk itu, BBKSDA Papua melibatkan berbagai unsur Polri, TNI, pemerintah daerah, NGO, dan masyarakat adat dalam forum multipihak. “Kita libatkan semuanya supaya semua tahu kondisi di lapangan seperti apa, tantangannya apa, dan bisa bersama-sama mencari solusi,” katanya.

Baca Juga :  Kejati Papua tahan 4 Tersangka Dugaan Korupsi pembangunan Aero Sport Mimika

Johny juga menegaskan bahwa peran masyarakat adat menjadi bagian penting dalam konservasi. “Kami tidak ingin menyulitkan masyarakat adat. Justru semangat kami adalah menjaga kearifan lokal agar tetap hidup berdampingan dengan konservasi modern,” ujarnya.

Selain penegakan hukum, BBKSDA Papua juga mengembangkan pendekatan ekonomi alternatif berbasis konservasi, seperti wisata pengamatan burung (birdwatching). “Kalau birdwatching dijaga, masyarakat bisa dapat penghasilan berkelanjutan tanpa harus menangkap burung,” kata Johny.

Ia menambahkan, beberapa satwa hasil sitaan saat ini tengah menjalani proses habituasi di kandang penyesuaian di Buper Waena, sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. “Baru-baru ini ada tangkapan kasturi kepala hitam, kakatua koki, dan mambro. Mereka akan dilepas setelah siap secara fisik,” ujarnya.

Johny berharap forum multipihak ini tidak berhenti pada seremoni. “Deklarasi ini harus menjadi semangat bersama, menguatkan empati dan sinergi untuk melestarikan keanekaragaman hayati di Papua,” katanya.

Berita Terkait

BPMP Papua dorong penerapan Gerakan Indonesia ASRI di seluruh sekolah
PP Tunas Resmi Berlaku, Kemenag Perkuat Literasi Digital Jutaan Siswa dan Santri
Max Ohee: Waena Bukan Wilayah KNPB, Warga Diminta Tetap Tenang
Kanwil Kemenag Papua Bahas Kuesioner Kajian Akademik Bantuan Rumah Ibadah, Dukung Asta Cita Presiden
Musim Nikah Usai Lebaran, Kemenag Pastikan Layanan KUA Tetap Berjalan di Tengah Kebijakan WFA
Makna Idul Fitri Menurut Menag: Hati yang Terbuka dan Aktif Menebar Manfaat
Kemenag Cairkan BOS Pesantren Rp 111,9 Miliar Lebih Awal
Gandeng BAZNAS, Kanwil Kemenag Papua Bagikan Santunan Ramadan 1447 H di Jayapura

Berita Terkait

Senin, 30 Maret 2026 - 09:37 WIB

BPMP Papua dorong penerapan Gerakan Indonesia ASRI di seluruh sekolah

Sabtu, 28 Maret 2026 - 11:43 WIB

PP Tunas Resmi Berlaku, Kemenag Perkuat Literasi Digital Jutaan Siswa dan Santri

Jumat, 27 Maret 2026 - 06:40 WIB

Max Ohee: Waena Bukan Wilayah KNPB, Warga Diminta Tetap Tenang

Rabu, 25 Maret 2026 - 14:20 WIB

Kanwil Kemenag Papua Bahas Kuesioner Kajian Akademik Bantuan Rumah Ibadah, Dukung Asta Cita Presiden

Rabu, 25 Maret 2026 - 11:50 WIB

Musim Nikah Usai Lebaran, Kemenag Pastikan Layanan KUA Tetap Berjalan di Tengah Kebijakan WFA

Berita Terbaru

Jangan Copy Ya