MAPPI — Perjuangan menghadirkan pendidikan di wilayah pelosok Papua Selatan masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya dialami Yayasan As’adiyah Al-Anshar di Distrik Assue, Kabupaten Mappi, yang berada sekitar 113 kilometer dari pusat kabupaten.
Di tengah keterbatasan akses, yayasan tersebut tetap mempertahankan layanan pendidikan bagi masyarakat dengan mengelola sejumlah jenjang pendidikan, mulai dari TPA-MDA, TK, Madrasah Ibtidaiyah (MI), SMP hingga pondok pesantren.
Kondisi dan kebutuhan yayasan menjadi perhatian Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua, Klemens Taran, bersama Kepala Bidang Pendidikan Islam Kanwil Kemenag Papua, M. Muzakir Asso, saat melakukan kunjungan kerja ke Distrik Assue.
Kunjungan tersebut sekaligus untuk melihat pembangunan ruang kelas dan asrama yang mendapat dukungan melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Namun, pembangunan fisik belum sepenuhnya menjawab kebutuhan yayasan. Ketua Yayasan As’adiyah Al-Anshar, Adi Muhammad Arsyad, mengatakan pihaknya masih menghadapi persoalan tenaga pendidik yang menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak.
Menurutnya, mencari guru yang bersedia mengabdi di wilayah pelosok jauh lebih sulit dibandingkan di perkotaan. Akibat keterbatasan tersebut, sejumlah pengurus yayasan harus merangkap sebagai tenaga pengajar.
“Kita di sini sangat kekurangan tenaga pendidik. Karena di pelosok, sangat susah orang mau mengabdi di sekolah yayasan kita, berbeda dengan di kota,” kata Arsyad.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi melalui penempatan atau penugasan guru PPPK di lembaga pendidikan yang dikelola yayasan.
Arsyad juga menyampaikan persoalan infrastruktur dasar yang masih membayangi kegiatan belajar mengajar. Gedung baru yang dibangun membutuhkan dukungan air bersih, listrik dan penerangan agar dapat digunakan secara maksimal.
Selama ini, kebutuhan listrik yayasan masih mengandalkan mesin diesel yang digunakan bersama dengan fasilitas masjid. Penggunaannya pun terbatas karena harus menyesuaikan kebutuhan dan waktu pemakaian masjid.
“Bangunan baru itu sangat membutuhkan fasilitas berupa sumur air, penerangan, kelistrikan, karena sekolah kita banyak menggunakan alat elektronik,” ujarnya.
Ketersediaan bahan bakar minyak turut menjadi kendala. Lokasi yayasan yang jauh dari pusat Kabupaten Mappi membuat kebutuhan operasional mesin diesel tidak selalu mudah dipenuhi, terlebih ketika terjadi keterbatasan pasokan BBM.
Persoalan lahan juga menjadi tantangan. Yayasan memiliki sekitar empat hektare tanah, tetapi sebagian belum dapat dimanfaatkan karena kondisi tanah yang merupakan kawasan rawa.
Ketika hujan turun, area kosong di sekitar bangunan mudah tergenang. Yayasan berharap pemerintah dapat membantu melakukan penimbunan lahan sehingga pengembangan fasilitas pendidikan ke depan tidak kembali terkendala kondisi tanah.
“Kami mohon kepada Bapak Kakanwil agar diusulkan ke pimpinan bagaimana caranya sehingga kita ada penimbunan lahan,” kata Arsyad.
Selain pembangunan gedung, pihak yayasan juga mengharapkan dukungan meubelair dan berbagai fasilitas penunjang untuk ruang kelas serta asrama.
Menanggapi berbagai kebutuhan tersebut, Kakanwil Kemenag Papua Klemens Taran menyatakan akan mengawal aspirasi Yayasan As’adiyah dan membawanya dalam pembahasan di tingkat Kementerian Agama.
Klemens menilai keberadaan lembaga pendidikan di Distrik Assue perlu mendapat perhatian khusus dalam perencanaan program selanjutnya.
“Kami hadir di sini untuk kemudian melengkapi kekurangan-kekurangan ini. Dalam perencanaan berikut, As’adiyah di Distrik Assue Kabupaten Mappi harus menjadi prioritas,” tegas Klemens.
Ia berharap pembangunan yang telah berjalan dapat dilengkapi dengan fasilitas pendukung sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan siswa dan tenaga pendidik.
Komitmen serupa disampaikan M. Muzakir Asso. Ia memastikan aspirasi dari pengelola Yayasan As’adiyah akan dikawal secara bertahap dan berjenjang.
“Insya Allah, kami akan tindak lanjuti dan kami kawal. Program ini kita maksimalkan, kalau bisa akan bertahap dan berjenjang di tahun berjalan dan tahun berikutnya,” ujar Muzakir.
Selain menjalankan pendidikan formal, Pondok Pesantren As’adiyah juga memberikan perhatian kepada anak-anak asli Papua. Para santri disebut memperoleh beasiswa penuh sehingga dapat mengikuti pendidikan tanpa terbebani biaya.
Namun, kebijakan tersebut membutuhkan dukungan operasional yang lebih kuat. Pengelola berharap adanya bantuan pembiayaan sekaligus pendampingan agar para santri memperoleh keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk mandiri dan mengembangkan potensi mereka.
Dengan berbagai kebutuhan tersebut, Yayasan As’adiyah berharap dukungan pemerintah dapat diberikan secara menyeluruh, tidak hanya dalam bentuk pembangunan gedung, tetapi juga tenaga pendidik, sarana pembelajaran, air bersih, listrik dan operasional.
Bagi masyarakat di Distrik Assue, keberadaan yayasan tersebut menjadi bagian penting dalam membuka akses pendidikan di wilayah yang jauh dari pusat Kabupaten Mappi.(Rilis)









