Jayapura, Papuaterdepan.com – Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua menilai pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kontribusi warga NU di Tanah Papua, baik dalam pengembangan pendidikan, kaderisasi organisasi, maupun penguatan moderasi beragama.
Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik Online bertema *“Muktamar NU 2026 dan Otonomi Gagasan dari Timur”* yang digelar The New Papua Foundation (NPF) dan diikuti sejumlah tokoh NU, akademisi, serta pemangku kepentingan secara daring.
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Basnang Said, mengatakan Papua memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pengembangan organisasi NU di tingkat nasional.
Menurut dia, wilayah timur Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari basis keanggotaan NU, tetapi juga dapat menjadi sumber lahirnya gagasan dan inovasi yang memperkaya arah gerakan organisasi ke depan.
“Papua memiliki banyak potensi yang perlu terus dikembangkan. Menjelang Muktamar NU 2026, keterlibatan warga NU di Papua harus semakin diperkuat agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan organisasi dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu agenda penting yang perlu mendapat perhatian. Karena itu, pengembangan lembaga pendidikan, pesantren, serta perguruan tinggi berbasis NU dinilai strategis untuk mencetak generasi muda yang kompeten dan berdaya saing.
Selain pendidikan, Basnang juga menekankan pentingnya kaderisasi berkelanjutan agar regenerasi kepemimpinan NU dapat berjalan secara optimal di berbagai daerah, termasuk Papua.
Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Papua Gatut Aryoko yang mewakili Kepala Kanwil Kemenag Papua Klemens Taran mengatakan Papua memiliki pengalaman panjang dalam menjaga kerukunan dan harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi modal penting dalam memperkuat peran NU sebagai organisasi keagamaan yang mengedepankan dakwah moderat dan membangun.
“Papua memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang dapat menjadi inspirasi dalam mengembangkan model dakwah yang inklusif serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat setempat,” katanya.
Ia menegaskan Kemenag Papua akan terus mendukung berbagai program kemitraan dengan NU, terutama dalam bidang pendidikan keagamaan, pembinaan pesantren, peningkatan kualitas layanan keagamaan, dan penguatan moderasi beragama.
Di sisi lain, CEO sekaligus Founder The New Papua Foundation (NPF), Baharudin Farawowan, mengatakan diskusi tersebut menjadi wadah untuk menghimpun berbagai pemikiran dan aspirasi warga NU Papua menjelang Muktamar NU 2026.
Menurutnya, peran masyarakat Papua dalam menjaga persatuan dan kerukunan selama ini patut menjadi perhatian dalam penyusunan agenda strategis organisasi pada tingkat nasional.
“Papua memiliki pengalaman dan kontribusi yang besar dalam merawat keberagaman. Karena itu, suara dan gagasan warga NU di Papua perlu menjadi bagian dari pembahasan menuju Muktamar NU 2026,” ujarnya.
Hasil diskusi tersebut nantinya diharapkan dapat dirumuskan menjadi rekomendasi yang mencakup penguatan pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan kelembagaan, serta perluasan peran NU dalam mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua.(Rilis)









