Jayapura,Papuaterdepan.com– Menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara bukan sekadar memenuhi kewajiban pekerjaan, tetapi juga merupakan bentuk pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan. Nilai inilah yang ditekankan Kepala Bidang Pendidikan Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua, M. Muzakir Asso, saat memberikan tausiah dalam pengajian rutin Majelis Al-Ikhlas di Musala Al-Ikhlas, Senin (5/10/2026).
Muzakir mengajak para pegawai untuk menjadikan amanah sebagai landasan dalam bekerja, baik ketika menjalankan tugas kedinasan maupun saat membangun hubungan dengan sesama rekan kerja. Menurutnya, komitmen terhadap tanggung jawab perlu dibuktikan melalui tindakan nyata dan dijaga secara konsisten.
Pengajian tersebut diikuti Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam, Muslimin Yelipele, serta anggota Majelis Al-Ikhlas yang merupakan pegawai Muslim di lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Papua.
Dalam penyampaiannya, Muzakir menyoroti pentingnya kesadaran ASN terhadap sumpah dan janji jabatan. Kepercayaan yang diberikan negara harus dijalankan dengan penuh kesungguhan, sebab setiap pekerjaan memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.
“Amanah ini ketika dilaksanakan, yang pertama tidak bisa main-main, tetapi juga harus konsisten. Sebagai ASN, kita sudah menerima sumpah dan janji. Karena itu, kita bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kita lakukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penerapan amanah dapat dimulai dari kedisiplinan sederhana, seperti hadir sesuai ketentuan, menaati waktu kerja, serta menyelesaikan tugas yang diberikan pimpinan. Kebiasaan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter pegawai yang bertanggung jawab.
“Paling tidak kita memaksimalkan amanah itu. Di antaranya soal kehadiran, absensi, datang tepat waktu, dan pulang tepat waktu. Supaya rezeki yang kita terima menjadi halal dan berkah bagi kita serta keluarga kita,” katanya.
Lebih dari sekadar mematuhi aturan kedinasan, Muzakir mengingatkan bahwa setiap ASN harus memahami tugas pokok dan fungsinya. Pekerjaan yang dipercayakan kepadanya perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh, sesuai kewenangan, serta mendukung tujuan organisasi.
Ia juga menggarisbawahi bahwa pegawai Kementerian Agama mempunyai tanggung jawab moral di tengah masyarakat. Identitas sebagai aparatur yang bekerja di bidang keagamaan membuat perilaku mereka kerap menjadi perhatian dan dapat dijadikan contoh oleh lingkungan sekitarnya.
“Kalau kita mau menjadi panutan, maka kita harus berusaha menjadi orang yang benar. Untuk menjadi orang yang benar, itu harus diperjuangkan,” ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong para pegawai agar terus memperbaiki diri dan membangun kebiasaan saling menasihati dalam kebaikan. Kritik maupun nasihat hendaknya disampaikan secara santun, sementara setiap pegawai perlu memiliki keterbukaan untuk menerima masukan.
Dalam kehidupan kantor, Muzakir turut mengajak seluruh pegawai memperkuat kebersamaan dan menjaga persaudaraan. Menurutnya, hubungan kerja yang baik dapat dibangun melalui kebiasaan saling menyapa, mengucapkan salam, tersenyum, berjabat tangan, dan berkomunikasi secara terbuka.
“Kita semua bersaudara, di kantor ini, budayakan mengucap salam, berjabat tangan dan saling mengingatkan. Jika ada masalah dibicarakan dengan baik dan santun. Kalau ada hal yang bisa kita pikulkan bersama, kita pikulkan bersama dan kita selesaikan,” tuturnya.
Ia mengingatkan agar perbedaan pandangan atau persoalan pribadi tidak berkembang menjadi permusuhan yang mengganggu hubungan antarrekan kerja. Sebaliknya, persoalan sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi yang baik dengan tetap menjaga akhlak dan rasa saling menghormati.
“Kita saling memiliki, saling menopang, saling bekerja, dan saling membantu. Kalau kita kompak, persoalan sebesar apa pun insyaallah dapat kita selesaikan,” katanya.
Muzakir kemudian mengaitkan tanggung jawab dalam pekerjaan dengan keberkahan rezeki. Ia mengingatkan bahwa Allah Swt. telah menetapkan rezeki setiap hamba, tetapi manusia tetap berkewajiban berusaha melalui cara yang benar dan melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik.
“Kalau rezeki, Allah sudah mengatur. Tetapi bagaimana kita menjalankan dan mengusahakannya, itu kembali kepada kita. Karena itu, amanah dalam pekerjaan harus kita laksanakan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Pengajian rutin Majelis Al-Ikhlas menjadi salah satu ruang pembinaan rohani bagi pegawai Muslim di lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Papua. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai keagamaan diharapkan semakin tercermin dalam kedisiplinan, integritas, hubungan ant pegawai, serta pelaksanaan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Dengan menjadikan amanah sebagai pedoman pengabdian, para ASN diharapkan mampu membangun lingkungan kerja yang saling mendukung, menjaga keharmonisan, dan memberikan pelayanan yang semakin bertanggung jawab.(Rilis)









