Malang,Papuaterdepan.com– Para santri peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 diharapkan membawa pulang lebih dari sekadar kenangan perkemahan. Pengalaman membangun persahabatan, melatih kepemimpinan, membentuk kedisiplinan, dan menumbuhkan rasa cinta Tanah Air menjadi bekal yang perlu diterapkan setelah kembali ke daerah masing-masing.
Harapan tersebut mengemuka dalam upacara penutupan PPSN VI di kompleks Pondok Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin malam (6/10/2026).
Selama sepekan, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan santri dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka mengikuti beragam aktivitas yang mendorong pengembangan karakter, keterampilan, kepedulian sosial, pelestarian lingkungan, serta penghargaan terhadap keberagaman budaya Nusantara.
Direktur Ma’had Aly pada Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI, Adib, dalam laporan penutupan panitia menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar. Ia menilai PPSN memiliki peran penting dalam mempererat silaturahmi sekaligus membina kepemimpinan santri melalui gerakan Pramuka.
Menurut Adib, pendidikan kepramukaan bagi santri perlu berjalan seiring dengan nilai-nilai yang diajarkan di pesantren. Dasa Dharma Pramuka menjadi landasan untuk membangun kedisiplinan, kemandirian, semangat gotong royong, akhlak yang baik, dan kecintaan terhadap bangsa.
Pembelajaran tersebut juga diperkuat melalui kegiatan yang menumbuhkan kepedulian terhadap alam, termasuk penanaman pohon dan upaya menjaga lingkungan.
Pesan Tuan Rumah: Jangan Berhenti Setelah Perkemahan Usai
Pengasuh Utama Pondok Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo, Fathul Bari, mengajak para peserta menjadikan pengalaman selama PPSN sebagai bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa mendatang.
Ia mengingatkan bahwa selesainya kegiatan tidak boleh membuat semangat dan kebiasaan positif yang telah dibangun selama perkemahan ikut berakhir.
“Perkemahan boleh berakhir, tetapi perjuangan tidak boleh berakhir. Tenda boleh dibongkar, tetapi semangat jangan dibongkar,” pesannya.
Fathul Bari menjelaskan, berbagai hal yang dialami selama perkemahan, mulai dari kegiatan harian hingga suasana di bumi perkemahan, mungkin tidak seluruhnya akan diingat peserta. Namun, nilai kebersamaan, perjuangan, dan persahabatan diharapkan tetap tertanam dalam diri mereka.
Ia juga menekankan bahwa ukuran keberhasilan PPSN tidak hanya ditentukan oleh jumlah penghargaan yang berhasil diraih peserta.
“PPSN bukan hanya tentang perlombaan, bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan piala dan siapa yang menjadi juara. Karena piala akan disimpan, tetapi karakter akan terus kita bawa sepanjang kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, santri yang mampu tumbuh menjadi pribadi berani, mandiri, peduli terhadap lingkungan, dan bermanfaat bagi orang lain telah memperoleh hasil penting dari proses pembinaan tersebut.
Karena itu, ia berharap para peserta mampu menerapkan pelajaran selama perkemahan dalam kehidupan di pesantren maupun ketika berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat.
Kemenag Jawa Timur Sampaikan Apresiasi
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, turut menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan PPSN VI.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Pondok Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo atas kesediaannya menjadi tuan rumah, serta kepada Gubernur Jawa Timur, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan yang memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Kolaborasi berbagai pihak dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan perkemahan yang mempertemukan santri dari berbagai daerah di Indonesia.
PPSN VI juga menjadi pengingat bahwa gerakan Pramuka di lingkungan pesantren bukan sekadar aktivitas luar ruang. Kegiatan ini merupakan sarana pendidikan untuk menumbuhkan akhlak, tanggung jawab, jiwa kepemimpinan, semangat kebangsaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Berakhirnya perkemahan di Malang pun diharapkan menjadi awal bagi para santri untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut secara nyata. Dengan begitu, persahabatan yang terjalin, karakter yang dibentuk, dan semangat kebangsaan yang tumbuh selama PPSN dapat terus berkembang dalam kehidupan sehari-hari.(Rilis)









