Jayapura, Papuaterdepan.com — Ibadah rutin Oikumene di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua kembali menjadi oase refleksi spiritual bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN).
Bertempat di Aula Sasana Krida Kanwil Kemenag Papua pada Senin (2/2/2026), persekutuan ibadah kali ini secara khusus menyoroti pentingnya peran umat beriman—terutama para abdi negara—sebagai penyalur berkat dan rahmat bagi sesama manusia.
Bertindak sebagai pelayan firman, Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Kabid Bimas) Katolik Kanwil Kemenag Papua, Fransiskus Xaverius Lesomar, mengajak seluruh peserta ibadah untuk menggali kembali esensi panggilan iman mereka. Panggilan tersebut, kata Fransiskus, tidak hanya berlaku di tempat ibadah, tetapi harus dibumikan di lingkungan kerja dan di tengah masyarakat.
Kehadiran yang Membangun Suasana
Dalam renungannya, Fransiskus menekankan bahwa keterbukaan hati untuk menjadi saluran kebaikan adalah sebuah tanggung jawab moral yang harus dipegang teguh oleh setiap ASN Kemenag.
“Inti dari bacaan yang kita refleksikan adalah bahwa setiap orang dipanggil untuk menjadi penyalur berkat dan rahmat bagi sesama. Keterbukaan dan tanggung jawab untuk terus menjadi saluran kebaikan itu harus kita pegang,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan agar setiap individu mengevaluasi dampak kehadiran mereka di lingkungan sekitar. Kehadiran seorang yang beriman sejatinya harus menghadirkan suasana yang membangun dan suportif.
Melalui sikap dan tindakan nyata yang positif di tempat kerja, orang lain akan dapat merasakan dan memuliakan kebaikan Tuhan.
“Jangan sampai kehadiran kita justru menciptakan suasana yang kurang baik (negatif). Sebaliknya, kehadiran kita harus memberi energi positif, agar orang lain melihat bahwa kebaikan Allah sungguh nyata melalui diri kita,” tegas Fransiskus.
Iman yang Berdampak Luas
Menutup renungannya, Fransiskus menyampaikan bahwa iman tidak boleh berhenti sebatas pada pengakuan di lisan saja. Iman membutuhkan keteguhan, ketekunan, dan aksi nyata untuk terus dihidupi setiap hari.
Menurutnya, iman yang dihidupi dengan sungguh-sungguh tidak hanya akan mendatangkan kedamaian bagi diri sendiri, tetapi juga akan memancarkan pengaruh yang luas bagi kesejahteraan sesama.
“Ketika kita melaksanakan apa yang diamanatkan Tuhan, iman itu akan berdampak luas. Bukan hanya bagi kita sendiri, tetapi juga bagi orang lain di sekitar kita,” pungkasnya.









