JAYAPURA, Papuaterdepan.com— Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Aparatur Sipil Negara (ASN) muslim di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua menyelenggarakan kajian keagamaan rutin.
Kegiatan yang ditujukan untuk pembinaan mental dan spiritual pegawai ini secara khusus membedah tafsir Surah Al-Baqarah ayat 183. Kajian tersebut digelar di Musala Al-Ikhlas Kanwil Kemenag Papua pada Senin (2/2/2026), dan diikuti oleh jajaran pejabat administrator, fungsional, hingga pelaksana.
Bertindak sebagai penceramah, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kanwil Kemenag Provinsi Papua, Ustaz Muslimin Yelipele, mengajak para jamaah untuk menyelami makna linguistik dan pesan spiritual di balik ayat perintah puasa tersebut.
Panggilan Batin bagi Orang Beriman
Ustaz Muslimin mengupas ayat tersebut melalui pendekatan ilmu tata bahasa Arab (nahwu dan sharaf). Ia menjelaskan bahwa seruan pembuka “Yā ayyuhalladzīna āmanū” merupakan bentuk panggilan khusus dan eksklusif dari Allah SWT kepada orang-orang yang beriman.
Menurutnya, panggilan ini tidak sekadar seruan, melainkan ketukan batin yang menuntut kesadaran penuh dari seorang hamba.
“Panggilan ini memberi kesadaran bahwa ketika Ramadan datang, setiap orang beriman seharusnya merasakan panggilan jiwa dalam dirinya. Ada kesiapan batin yang harus disiapkan untuk menjalani ibadah puasa dan juga ibadah lainnya,” ungkap Ustaz Muslimin.
Lebih lanjut, ia menyoroti kata “kutiba” yang bermakna “diwajibkan”. Penggunaan bentuk kata pasif ini menunjukkan bahwa puasa adalah ketetapan absolut dari Allah yang sudah tertulis secara pasti, bukan sekadar anjuran biasa.
Iman yang Fluktuatif Membutuhkan Persiapan
Hal menarik lainnya adalah penggunaan kata “āmanū” yang merupakan kata kerja (fi’il), bukan kata benda (isim). Secara filosofis, ini menunjukkan bahwa iman adalah sesuatu yang hidup, dinamis, dan terus berproses.
Mengutip pandangan sufi besar Imam Al-Ghazali, Ustaz Muslimin mengingatkan bahwa iman seseorang sifatnya fluktuatif—bisa bertambah dan bisa berkurang.
“Iman itu bisa naik dan turun. Karena itu, sebelum memasuki Ramadan, kesiapan iman harus dimantapkan agar pelaksanaan puasa benar-benar berkualitas dan bernilai ibadah,” jelasnya.
Takwa adalah Harapan, Bukan Otomatisasi
Di penghujung kajian, Ustaz Muslimin membedah frasa penutup ayat “la‘allakum tattaqūn” (agar kamu bertakwa). Ia menegaskan bahwa kalimat ini bermakna sebuah harapan, bukan jaminan kepastian. Artinya, tidak semua orang yang berpuasa otomatis meraih derajat takwa.
Pencapaian takwa sangat bergantung pada keikhlasan, pengendalian diri, dan kualitas batin selama menjalankan ibadah sebulan penuh.
“Puasa yang berhasil bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi bagaimana ibadah tersebut membentuk ketakwaan. Kesiapan jiwa, niat, serta konsistensi beramal menjadi kunci menyambut Ramadan yang bermakna, sembari kita tetap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,”pungkasnya.(Rilis)









