Perkuat Moderasi Beragama, Institusi Ummul Quro Bogor Teliti Model Pendidikan Tasamuh di Pesantren Jayapura
JAYAPURA – Kota Jayapura kembali menjadi barometer riset nasional terkait kerukunan umat beragama. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jayapura, Ani Matdoan, S.Ag., M.M., menyambut kunjungan kehormatan dari tim peneliti Institusi Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor di ruang kerjanya, Kamis 23 april 2026.
Kunjungan yang dipimpin oleh Dr. Syamsul Rizal Mz., S.H.I., M.Pd.I. beserta tim ini bertujuan untuk menjalankan salah satu pilar Tridharma Perguruan Tinggi, yakni penelitian mendalam mengenai pola pendidikan di Tanah Papua.
Mengangkat Kearifan Lokal dalam Pendidikan Kebangsaan
Penelitian yang dilakukan tim IUQI Bogor ini terbilang istimewa karena mengangkat judul: “Model Pendidikan Kebangsaan Berbasis Kearifan Lokal; Rancangan dan Implementasi Pendidikan Tasamuh di Pesantren Multikultur di Papua.”
Fokus utama riset ini adalah mengkaji bagaimana nilai-nilai Tasamuh (toleransi) diintegrasikan dengan kearifan lokal Papua dalam kurikulum pendidikan pesantren. Hal ini dinilai krusial untuk menciptakan model pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga inklusif dan moderat.
Empat Pesantren Besar Jadi Sampel Penelitian
Untuk mendapatkan data yang akurat dan komprehensif, tim peneliti telah menetapkan empat pondok pesantren di Kota Jayapura sebagai lokasi sampel, antara lain:
Pondok Pesantren Ya Bunayya, Yoka
Pondok Pesantren DDI, Entrop
Pondok Pesantren DQD, Argapura
Pondok Pesantren Darussalam, Koya Barat
Keempat pesantren ini dipilih karena dinilai merepresentasikan wajah pesantren multikultural yang mampu hidup berdampingan dengan harmonis di tengah keberagaman etnis dan agama di Jayapura.
Kemenag Jayapura: Kontribusi Nyata untuk Pendidikan Inklusif
Ani Matdoan dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi kepada Institusi Ummul Quro Al-Islami Bogor yang telah memilih Jayapura sebagai lokus penelitian nasional. Menurutnya, hasil riset ini nantinya akan menjadi referensi penting bagi kebijakan Kemenag di masa depan.
“Kami sangat bangga dan mengapresiasi kepercayaan ini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan keagamaan yang moderat dan inklusif. Papua adalah laboratorium kerukunan yang nyata, dan pesantren-pesantren kita di sini adalah buktinya,” ujar Ani Matdoan.
Ia menambahkan bahwa sinergi antara dunia akademis dan instansi pemerintah seperti Kemenag sangat diperlukan untuk memperkuat fondasi kebangsaan dan harmoni di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.









