JAYAPURA, Papuaterdepan.com– Dugaan penyanderaan terhadap sembilan perempuan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mendapat kecaman keras dari Tokoh Pemuda Adat Tabi, Paulinus Ohee.
Paulinus menilai dugaan tindakan tersebut telah melewati batas-batas kemanusiaan. Menurut dia, perempuan dan masyarakat sipil tidak seharusnya menjadi sasaran dalam setiap persoalan keamanan yang terjadi di Papua.
“Saya sangat menyayangkan dan mengutuk kejadian di Kabupaten Mimika, tepatnya di Distrik Jila, di mana ada penyanderaan terhadap sembilan wanita yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata,” kata Paulinus, Senin (24/8/2026).
Ia menegaskan, tindakan terhadap sembilan perempuan tersebut tidak dapat dipandang sebagai persoalan biasa. Selain menyangkut keselamatan jiwa, kasus itu juga berkaitan dengan kehormatan dan martabat para korban.
Paulinus mengatakan perempuan merupakan bagian penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Karena itu, tindakan yang mengancam keselamatan maupun martabat perempuan harus mendapatkan perhatian serius dari semua pihak.
“Menurut saya, ini tindakan yang sangat tidak manusiawi dan tidak terpuji,” ujarnya.
Ia menilai dugaan penyanderaan tersebut berpotensi meninggalkan trauma mendalam bagi para korban. Situasi demikian, kata dia, juga dapat menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat, terutama keluarga yang tinggal di wilayah rawan konflik.
Paulinus menyoroti bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga merupakan persoalan kemanusiaan yang harus menjadi perhatian bersama.
Menurut dia, siapa pun yang terlibat dalam aksi tersebut semestinya memahami bahwa masyarakat sipil memiliki hak untuk hidup aman tanpa ancaman kekerasan maupun intimidasi.
“Perbuatan tersebut sangat merusak harga dan martabat daripada para wanita tersebut,” katanya.
Karena itu, Paulinus meminta agar keselamatan sembilan perempuan yang disebut menjadi korban penyanderaan menjadi prioritas. Ia berharap aparat keamanan dan pihak terkait dapat segera memastikan kondisi mereka serta mengambil langkah sesuai ketentuan hukum.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak melakukan tindakan balasan yang justru dapat memperbesar persoalan dan menimbulkan korban baru.
Menurut Paulinus, kondisi keamanan di Papua membutuhkan pendekatan yang mengedepankan perlindungan masyarakat sipil. Setiap tindakan kekerasan terhadap warga, terlebih terhadap perempuan, dinilai hanya akan memperpanjang ketakutan dan menghambat terciptanya kehidupan yang damai.
“Jangan sampai masyarakat sipil terus menjadi korban. Perempuan harus dilindungi dan martabat mereka harus dihormati,” tegasnya.
Paulinus selanjutnya mengajak tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh agama, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menyuarakan penghentian kekerasan terhadap masyarakat sipil.
Ia berpandangan bahwa masyarakat Papua membutuhkan suasana yang aman agar berbagai aktivitas dapat berjalan normal, termasuk pendidikan, pelayanan pemerintahan, kegiatan ekonomi, serta kehidupan sosial dan adat.
“Kami sangat mengutuk tindakan keji yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata di Kabupaten Mimika,” ujarnya.
Paulinus berharap dugaan kasus tersebut dapat segera ditangani secara menyeluruh dan tidak berkembang menjadi persoalan baru yang merugikan masyarakat.
Ia juga meminta agar informasi mengenai kejadian di Jila disampaikan secara terbuka dan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak memicu keresahan maupun informasi yang menyesatkan di tengah masyarakat.
“Yang paling penting adalah keselamatan masyarakat. Kita semua harus menjaga agar perempuan dan warga sipil tidak lagi menjadi korban kekerasan,” kata Paulinus.(Rilis)








