Jayapura,Papuaterdepan.com — Di tengah kentalnya keragaman aliran dan sinode gereja di Tanah Papua, Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan posisinya. Melalui kolaborasi penyiaran bersama LPP RRI Jayapura, para penyuluh agama Kristen diminta menanggalkan identitas denominasi gerejanya masing-masing saat mengudara. Mimbar udara harus murni menjadi wajah negara yang mengayomi seluruh umat tanpa sekat.
Sikap tegas ini mengemuka dalam rapat koordinasi hibrida antara Kanwil Kemenag Papua dan LPP RRI Jayapura, Kamis (29/1/2026). Rapat tersebut tak sekadar membahas jadwal teknis, tetapi menjadi ajang kalibrasi ulang tentang makna kehadiran negara di tengah masyarakat Papua.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bidang Urusan Agama Kristen Kanwil Kemenag Papua, Yoses Cipuk Hariani, menyoroti pentingnya siaran yang inklusif. Menurutnya, corong radio publik tidak boleh menjadi panggung eksklusif bagi kelompok gereja tertentu.
“Ketika kita hadir sebagai penyuluh, yang kita bawa adalah institusi Kementerian Agama, bukan sinode gereja tertentu. Ini sangat krusial agar kehadiran negara benar-benar diakui dan dirasakan oleh seluruh umat Kristen yang terjangkau sinyal RRI di Tanah Papua,” tegas Cipuk.
Menguji Integritas Tanpa “Amplop”
Di luar urusan teologis, Kemenag Papua juga mengambil langkah tajam terkait integritas birokrasi. Cipuk secara terbuka menegaskan bahwa siaran keagamaan ini berjalan sepenuhnya tanpa dukungan biaya operasional tambahan, baik dari dompet Kemenag maupun RRI.
Langkah ini mendobrak kebiasaan lama yang kerap mengaitkan penugasan luar kantor dengan uang jalan. Sebagai gantinya, jam terbang penyuluh di radio akan dikonversi menjadi penilaian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) yang berdampak langsung pada tunjangan kinerja (tukin) bulanan mereka.
“Sejak awal kami garis bawahi, tidak ada biaya operasional. Ini murni pelayanan. Inilah saatnya membuktikan moto ‘Ikhlas Beramal’ bahwa Kemenag hadir melalui kerja nyata, bukan sekadar lewat doa dan khotbah,” paparnya.
Demi pemerataan, Kemenag mengambil alih penuh kendali penjadwalan. Kanwil akan merotasi secara tertib para penyuluh yang tersebar di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, hingga Kabupaten Keerom untuk mengisi slot rekaman setiap Senin hingga Jumat pukul 09.00–14.00 WIT.
Keluar dari Monolog Kaku
Dari sisi lembaga penyiaran, RRI tak ingin program keagamaan terjebak dalam format monolog yang monoton. Kepala Tim Konten Media Baru LPP RRI Jayapura, Martha Batti, menantang para penyuluh untuk keluar dari zona nyaman dan melakukan inovasi siaran.
Martha mengusulkan perombakan format, khususnya untuk program Renungan Pagi. Ia berharap siraman rohani ke depan bisa dikemas dalam bentuk dialog santai dua arah yang lebih cair dan membumi dengan realitas keseharian masyarakat Papua, tanpa harus mengorbankan kedalaman teologis.
“Kolaborasi ini adalah tanggung jawab bersama. Kita harus menghadirkan siaran yang tidak hanya sarat pesan rohani, tetapi juga mencerminkan nilai budaya dan keberagaman Papua itu sendiri,” ujar Martha.
Saat ini, RRI telah mengalokasikan slot khusus untuk Bimas Kristen Protestan. Di Programa 1, siaran mengudara setiap Senin dan Minggu (Renungan Pagi pukul 05.00 WIT dan Mimbar Agama pukul 19.30 WIT). Sementara di Programa 4, Renungan Pagi hadir saban subuh pada hari Selasa dan Kamis.(Rilis_








