Papua,Papuaterdepan.com – Kedamaian adalah syarat mutlak bagi kemajuan Papua. Segala bentuk provokasi yang memicu kerusuhan atau aksi anarkis hanya akan merugikan masyarakat sendiri, merusak stabilitas, serta menghambat pembangunan.
Tokoh Papua, Charles Kossay, mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat harus dijalankan dengan tanggung jawab.
“Demonstrasi memang hak warga negara, tetapi kalau berubah menjadi anarkis, itu bukan lagi perjuangan, melainkan perusakan,” tegas Charles dalam siaran pers tertulis di Jayapura, Jumat 12 September 2025
Ia menilai, demokrasi sejati harus diwujudkan melalui dialog dan cara damai.
Pesan serupa datang dari Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, yang menekankan pentingnya menjaga persaudaraan. “Papua adalah rumah bersama. Tanpa persatuan, pembangunan tidak akan pernah berhasil,” ujarnya.
Menurutnya, harmoni sosial merupakan fondasi utama bagi Papua untuk tetap menjadi tanah yang diberkati.
Tokoh agama juga bersuara. Abdul Rashid Fimbai dari Badan Koordinasi Majelis Muslim Papua Barat menyerukan agar Manokwari dijadikan rumah damai bagi semua golongan. Ketua LMA Fakfak, Valentinus Kabes, menambahkan, “Aspirasi boleh disampaikan, tetapi harus dengan cara damai, bukan anarkis.”
Dari kalangan adat, Erens Wakum menegaskan tanggung jawab moral kepala suku dalam menjaga keamanan masyarakat. Sementara Kepala Suku Moile Pegunungan Arfak mengingatkan bahwa anarkisme hanya merusak nama baik daerah.
Generasi muda Papua juga didorong untuk melek literasi digital. Dengan kemampuan memilah informasi, mereka dapat menangkal isu provokatif yang beredar di media sosial dan menjadi agen perdamaian.
Pemerintah daerah bersama aparat keamanan terus memperkuat stabilitas dengan pendekatan persuasif dan humanis. Sinergi ini menunjukkan bahwa Papua yang damai bukan hanya retorika, melainkan kerja nyata semua pihak.
Pesan yang digarisbawahi para tokoh jelas: Papua harus tetap aman, damai, dan rukun. Karena hanya dengan persatuan, rakyat Papua bisa menatap masa depan yang sejahtera.(Rilis)









