JAYAPURA,Papuaterdepan.com— Penguatan pemahaman keagamaan di lingkungan kerja tidak berhenti pada rutinitas ibadah. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua mendorong pegawai Muslim membangun budaya belajar agar mampu memahami ajaran Islam secara lebih mendalam.
Pesan itu disampaikan Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam Kanwil Kemenag Papua, Muslimin Yelipele, dalam Pengajian Rutin Pegawai Muslim di Musala Al-Ikhlas, Senin (10/8/2026).
Menurut Muslimin, majelis ilmu memiliki peran penting dalam membentuk kualitas pribadi sekaligus memperkuat nilai spiritual aparatur. Pengetahuan yang diperoleh dalam pengajian diharapkan tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita ingin membicarakan ilmu yang bermanfaat. Mudah-mudahan apa yang kita pelajari menjadi amal yang berpahala. Majelis ilmu adalah salah satu jalan menuju keberkahan hidup,” ujarnya.
Salah satu materi yang menjadi perhatian dalam pengajian adalah pentingnya memahami bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an.
Muslimin menjelaskan, kemampuan membaca Al-Qur’an perlu disertai upaya memahami struktur dan perubahan kata dalam bahasa Arab. Penguasaan ilmu nahwu dan sharaf dinilai dapat membantu umat memahami pesan ayat secara lebih tepat.
Ia kemudian mengenalkan sejumlah dasar ilmu sharaf, mulai dari pola pembentukan kata atau wazan, fi’il madhi, fi’il mudhari’, fi’il amr, ism fa’il hingga ism maf’ul.
Menurutnya, perubahan bentuk sebuah kata dalam bahasa Arab dapat memengaruhi makna dan fungsi penggunaannya. Pemahaman terhadap pola tersebut akan membantu ketika seseorang menemukan istilah tertentu dalam Al-Qur’an maupun literatur keislaman.
Muslimin mencontohkan sejumlah istilah yang memiliki keterkaitan bentuk kata, seperti *iqra’*, *qari’* dan *qira’ah*. Dengan memahami pola pembentukan kata, umat dinilai akan lebih mudah menelusuri makna dan konteks suatu istilah.
“Kalau rumus dasarnya sudah dipahami, maka ketika menemukan kata dalam Al-Qur’an atau kitab, kita akan lebih mudah mengetahui makna, fungsi, dan konteks penggunaannya,” katanya.
Ia menilai pembelajaran bahasa Arab tidak semestinya dianggap hanya sebagai kebutuhan kalangan akademisi atau pesantren. Pengetahuan dasar mengenai bahasa Al-Qur’an juga penting bagi masyarakat Muslim yang ingin memperdalam pemahaman terhadap kitab suci.
Karena itu, Muslimin mendorong agar pembelajaran bahasa Arab mulai diperkenalkan secara lebih terstruktur sejak usia dini.
Menurutnya, anak-anak yang memperoleh dasar bahasa Arab sejak awal akan memiliki bekal lebih baik untuk memahami Al-Qur’an dan khazanah literatur Islam ketika memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
“Yang kita bangun bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan memahami,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Muslimin juga mengaitkan pentingnya ilmu dengan amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Menurutnya, manusia diberikan kemampuan untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan sebagai bagian dari tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, menuntut ilmu harus berjalan beriringan dengan pengamalan nilai agama dan pembentukan akhlak.
Pengajian berlangsung secara interaktif. Para pegawai diberi kesempatan mengajukan pertanyaan dan mendiskusikan materi yang disampaikan, termasuk menghubungkannya dengan pengalaman dalam mempelajari Al-Qur’an.
Muslimin berharap forum tersebut terus dipertahankan sebagai ruang pembelajaran bersama bagi pegawai Muslim Kanwil Kemenag Papua.
“Majelis seperti ini harus terus kita hidupkan. Ilmu yang dipelajari bersama akan menguatkan pemahaman, mempererat ukhuwah, dan membentuk budaya belajar di lingkungan kerja,” katanya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama untuk memohon keberkahan ilmu, kelancaran dalam menjalankan tugas serta kebaikan bagi seluruh keluarga besar Kanwil Kemenag Papua.
Pengajian rutin tersebut menjadi bagian dari upaya Kanwil Kemenag Papua menjaga keseimbangan antara penguatan kompetensi aparatur dan pembinaan kehidupan spiritual. Pengetahuan agama diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan pegawai, tetapi juga membentuk pribadi yang berintegritas dan mampu membawa nilai-nilai keagamaan ke dalam pelaksanaan tugas pelayanan kepada masyarakat.(Rilis)









