Sentani,Papuaterdepan.com– Pembangunan kelenteng pertama di Provinsi Papua resmi dimulai. Wakil Bupati Jayapura, Haris Richard S. Yocku, bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Papua, Klemens Taran, meletakkan batu pertama pembangunan Kelenteng Dharma Agung Sakti di halaman Vihara Cycloop Dhammajaya, Sentani, Minggu (19/10).
Peristiwa ini menjadi momen bersejarah bagi umat Buddha di Tanah Papua, menandai dimulainya pembangunan rumah ibadah khusus umat Tridharma yang diharapkan menjadi pusat kegiatan spiritual dan sosial masyarakat Buddha di wilayah tersebut.
Dalam sambutannya, Kakanwil Klemens Taran menyatakan komitmennya untuk mendorong pembangunan kelenteng tersebut agar mendapat perhatian dan dukungan dari Kementerian Agama RI.
“Kanwil Kemenag Papua melalui Pembimas Buddha akan terus berupaya agar pembangunan Kelenteng Dharma Agung Sakti mendapat perhatian khusus dari Bapak Dirjen Bimas Buddha dalam penganggaran tahun 2026,” ujar Klemens.
Wakil Bupati Jayapura, Haris Richard S. Yocku, menyambut baik pembangunan kelenteng tersebut sebagai wujud nyata toleransi dan keberagaman di Kabupaten Jayapura.
“Tidak boleh ada perbedaan dalam hal apapun kepada umat beragama. Semua agama, termasuk Buddha, diterima di Kabupaten Jayapura,” tegasnya.
Ia juga berharap agar umat Buddha dapat terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat asli Papua.
“Kami berharap umat Buddha juga bisa menerima dan hidup berdampingan dengan masyarakat adat Papua dalam semangat persaudaraan,” tambahnya.
Sementara itu, Bhante Wongsin Labhiko Mahathera, Ketua Dhammaduta Thailand untuk Indonesia, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengaku selalu merasa seperti berada di rumah setiap kali datang ke Papua.
“Saya selalu merasakan kedamaian dan kerukunan di sini. Semoga suasana ini terus terjaga dan dukungan pemerintah terhadap umat Buddha semakin meningkat,” ujarnya.
Pembangunan Kelenteng Dharma Agung Sakti diharapkan menjadi tonggak penting bagi pengembangan kehidupan beragama di Papua serta memperkuat semangat toleransi dan kebhinekaan di Bumi Cenderawasih.(Rilis)









