Papuaterdepancom,Jayapura – Senator DPD RI asal Papua, Pdt. David Harold Waromi, menyalurkan Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) tahap pertama bagi siswa SD hingga SMK di Papua dengan total 190 penerima manfaat.
Waromi menjelaskan, mekanisme penyaluran dilakukan melalui Kementerian Pendidikan dan dikoordinasikan bersama dinas pendidikan, operator sekolah, serta kepala sekolah. Namun, proses penyaluran masih terkendala validitas data.
“Masih ada sekitar 800 kuota yang belum tersalurkan karena data pokok pendidikan (Dapodik) dan nomor induk kependudukan (NIK) bermasalah, terutama di kampung,” kata Waromi saat penyerahan bantuan di Kota Jayapura, Senin (25/8/2025). Dalam kesempatan itu, ia turut didampingi dua perwakilan dari Jepang.
Menurut dia, dari 600 data siswa yang diajukan ke pusat, seluruhnya ditolak akibat persoalan Dapodik dan NIK. Hanya 190 siswa yang berhasil masuk sistem dan menerima manfaat. “Ini jadi pelajaran agar ke depan koordinasi antara operator sekolah, kepala sekolah, dan DPD lebih baik,” ujarnya.
Tahap awal penyaluran dipusatkan di Kota Jayapura agar perwakilan dari kabupaten lain bisa berkumpul. Pemilihan lokasi itu juga karena keterbatasan waktu. “Kami juga ingin melaporkan langsung kepada Presiden Prabowo dan kementerian terkait bahwa program ini berjalan di Papua,” kata David.
Ia menambahkan, DPD RI akan mendorong penyaluran tahap berikutnya ke sembilan kabupaten/kota lain di Papua. “Harapan kami, ke depan distribusi bisa lebih merata dan benar-benar sampai ke anak-anak, baik di kampung maupun di kota,” ucapnya.
David juga meminta sekolah dan operator proaktif menyiapkan data yang valid agar penyaluran PIP tidak kembali tertunda. “[Mari kita berkolaborasi]. Kalau data lengkap, kuota bisa langsung terserap,” katanya.
Selain mengawal penyaluran beasiswa PIP, DPD RI juga mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto lainnya, yakni Desa Bersatu Indonesia Maju. Program ini baru-baru ini mendapat dukungan dari Delegasi Jepang melalui kerja sama pembangunan pedesaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan ekonomi masyarakat.
Salah satu orang tua siswa, Habeli Mansi, mengaku bersyukur anaknya mendapat bantuan PIP yang difasilitasi David. Ia menyebut bantuan itu sebagai jawaban doa di tengah kesulitan ekonomi keluarga.
“Malam itu saya bingung, guru bilang besok anak saya dibawa ke BP, tapi saya tidak tahu bisa dapat bantuan dari program apa. Saya berdoa saja, dan benar, keesokan harinya kami dipanggil,” kata Habeli.
Ia menambahkan, keluarga sempat putus asa karena belum pernah menerima bantuan serupa. “Hari ini saya bersyukur, karena lewat Pak David yang peduli dengan orang kecil, saya percaya itu adalah kepanjangan tangan Tuhan,” ujarnya.
Program Indonesia Pintar merupakan bantuan pendidikan dari pemerintah pusat untuk mencegah anak putus sekolah. DPD RI, khususnya Komite III yang membidangi pendidikan, ikut mengawal pelaksanaan program ini di Papua.









