JAYAPURA — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua, Klemens Taran, memberikan tantangan emosional sekaligus strategis kepada pengurus Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Provinsi Papua Periode 2023–2027. Kakanwil meminta mereka keluar dari zona nyaman dan melahirkan program kerja nyata yang langsung menyentuh akar rumput, khususnya anak jalanan dan kelompok rentan.
Hal tersebut ditegaskan Kakanwil saat memberikan arahan pada prosesi Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Wilayah IPARI Provinsi Papua di Aula Sasana Krida Bakti Kanwil Kemenag Papua, Rabu (20/05/2026).
Penyuluh Adalah Wajah Asli Kementerian Agama
Dalam sambutannya, Klemens Taran mengingatkan bahwa para penyuluh agama adalah ujung tombak institusi. Di pundak merekalah citra Kementerian Agama dipertaruhkan di mata masyarakat luas.
“Penyuluh agama harus menjadi garda terdepan Kementerian Agama. Orang melihat wajah Kemenag itu dari perilaku dan pelayanan penyuluh di lapangan,” ujar Kakanwil lugas.
Kakanwil mengapresiasi inovasi beberapa penyuluh yang mulai mendobrak sekat konvensional, seperti menjalin kerja sama pelayanan rohani dengan pihak rumah sakit. Ia meminta pola progresif ini diperluas ke ruang-ruang sosial lain, termasuk sekolah dan pusat pembinaan karakter.
Menolak Seremonial: Soroti Anak Sekolah yang Telantar di Jalanan
Sentilan keras diberikan Kakanwil terkait penyusunan program kerja organisasi yang sering kali terjebak dalam batas seremonial dan teori belaka. Ia meminta IPARI peka melihat realitas sosial di sekitar kantor, di mana masih banyak anak-anak usia sekolah yang menghabiskan waktu di jalanan tanpa pendampingan moral yang layak.
“Kita jangan hanya bicara program besar, sementara anak-anak di depan mata kita belum tersentuh. Lebih baik program sedikit tetapi berjalan dan berdampak, daripada banyak program tetapi tidak terlaksana. Jangan membuat program yang hanya bagus di atas kertas!” tantang Klemens.
Ia mendorong seluruh divisi IPARI—mulai dari bidang organisasi, SDM, advokasi, hingga lintas sektoral—untuk merumuskan formula pembinaan keagamaan yang inklusif demi menyelamatkan masa depan generasi muda Papua tersebut.
Misi Kemanusiaan Lintas Iman: “Dalam Kemanusiaan Kita Bersaudara”
Selain masalah sosial, penguatan moderasi beragama di bumi Cenderawasih menjadi amanat utama yang dititipkan kepada kepengurusan baru ini. Penyuluh agama dituntut memiliki wawasan lintas iman yang matang agar mampu menjadi jembatan perdamaian.
“Dalam iman kita mungkin berbeda, tetapi dalam kemanusiaan kita adalah saudara. Minimal memahami cara menghormati agama lain. Itu bagian dari moderasi beragama yang harus terus diperkuat,” tegasnya.
IPARI Papua Siap Jawab Tantangan Kakanwil
Merespons tantangan tersebut, Ketua IPARI Provinsi Papua yang baru dilantik, Hendrik Vallen Ayomi, menyatakan kesiapan jajarannya untuk langsung bergerak. Pelantikan ini disebutnya sebagai momentum emas untuk memperkuat pelayanan yang moderat, inklusif, dan menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Kementerian Agama bekerja dalam semangat keberagaman. Karena itu, IPARI hadir untuk memperkuat kolaborasi, semangat berbagi, dan pelayanan lintas agama di Tanah Papua. Perbedaan bukan menjadi penghalang, tetapi kekuatan untuk bersama-sama melayani masyarakat Papua,” pungkas Vallen optimis.(Rilis)









