Jayapura, Papuaterdepan.com – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua resmi memperkuat sinergi lintas sektoral guna membentengi generasi muda dari ancaman narkotika dan krisis moral.
Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kanwil Kemenag Papua dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Papua serta Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani di Aula Sasana Krida Bakti, Jayapura, Selasa (21/4/2026).
Kepala Kanwil Kemenag Papua, Klemens Taran, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan jawaban atas tantangan sosial yang semakin kompleks di Bumi Cendrawasih. Ia menyebut, urusan membina akhlak dan menjaga masa depan bangsa tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Momentum ini adalah langkah strategis. Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Kolaborasi adalah kunci dalam menjawab tantangan nyata di tengah masyarakat,” ujar Klemens di sela-sela kegiatan.
Bukan Sekadar Seremoni
Klemens memberikan catatan khusus agar kesepahaman ini tidak berakhir sebagai dokumen formalitas di atas meja kerja. Ia menuntut adanya implementasi program yang menyentuh langsung akar rumput.
Menurutnya, Kemenag memiliki mandat dalam membangun kehidupan beragama yang moderat. Namun, tantangan seperti degradasi moral dan peredaran narkoba memerlukan intervensi khusus dari lembaga terkait seperti BNN dan institusi pendidikan.
“MoU ini tidak boleh berhenti sebagai dokumen formalitas. Harus ada program nyata dan dampak yang dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Senada dengan hal itu, Kepala BNNP Papua, Brigjen Pol. Anang Triwidiandoko, menyatakan bahwa peran tokoh agama dan penyuluh dari Kemenag sangat krusial. BNN berencana mengoptimalkan rumah ibadah sebagai pusat edukasi bahaya narkotika.
“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Penguatan ketahanan keluarga dan edukasi berbasis keagamaan sangat penting,” kata Anang.
Alarm Ketahanan Nasional
Kekhawatiran para pemangku kebijakan ini bukan tanpa alasan. Anang memaparkan data Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) tahun 2025 yang menunjukkan Indeks Ketahanan Nasional berada di angka 2,84. Skor terendah berada pada aspek sosial budaya (2,5) yang dipicu oleh penurunan toleransi dan degradasi karakter.
Selain itu, prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia tahun lalu telah mencapai 2,2 persen atau sekitar 2,14 juta jiwa. Angka ini menjadi dasar kuat bagi BNNP untuk menggandeng lembaga pendidikan dan keagamaan.
Transformasi Karakter melalui Pendidikan
Di sisi lain, Rektor STAKPN Sentani, Hendry Joshua Nanlohy, melihat kerja sama ini sebagai wujud nyata Tridharma Perguruan Tinggi. Pihaknya berkomitmen menjadi support system bagi Kemenag dalam menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul secara intelektual dan karakter.
“Kami memiliki tanggung jawab moral untuk memberdayakan generasi muda Papua agar menjadi bagian dari transformasi sosial,” tutur Hendry.
Penandatanganan yang bertepatan dengan Hari Kartini ini pun dimaknai sebagai simbol perjuangan keluar dari kegelapan menuju cahaya. Sinergi ini diharapkan mampu menghadirkan masa depan Papua yang lebih bersih, berakhlak, dan berdaya saing.(Rilis)









