Hening Nusantara Waisak, Bhikkhu Ajak Umat Bangun Perdamaian dari Dalam Diri

- Redaksi

Rabu, 20 Mei 2026 - 12:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jayapura, Papuaterdepan.com — Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha bersama umat Buddha Vihara Buddha Maitreya Jayapura mengikuti kegiatan spiritual nasional Hening Nusantara secara luring dari Jayapura, Rabu (20/05/2026).

Acara yang digelar via Zoom Meeting dalam rangka menyambut Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) ini menyuguhkan Ceramah Dhamma mendalam dari tokoh spiritual terkemuka, Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera. Mengusung tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”, beliau menegaskan bahwa kedamaian global mustahil tercipta jika batin manusia masih dijajah oleh ego.

Dua Cara Memuliakan Waisak: Ritual vs Praktik Nyata
Dalam pemaparannya, Bhikkhu Sri Pannavaro menjelaskan bahwa umat Buddha memiliki dua metode utama dalam merayakan hari suci Waisak:

Amisa Puja: Memperingati Waisak melalui upacara, dekorasi, dan persembahan fisik.

Patipatti Puja: Memuliakan Guru Agung Buddha Gautama secara substansial melalui praktik Dhamma dan pembersihan batin.

“Meditasi bersama yang kita lakukan dalam Hening Nusantara ini adalah wujud nyata dari patipatti puja, yakni praktik Dhamma tertinggi untuk membersihkan batin dan memancarkan energi kedamaian,” jelas Bhikkhu.

Baca Juga :  Adaptasi Kebijakan WFH: ASN Kemenag Kota Jayapura Perkuat Sinergi Lewat Senam dan Kerja Bakti

Sinergi Ajaran Buddha dan Konstitusi UNESCO: Perang Mulai dari Pikiran
Uniknya, Bhikkhu Sri Pannavaro mengaitkan esensi ajaran Buddha dengan pembukaan Konstitusi lembaga dunia UNESCO yang dirumuskan 80 tahun silam. Piagam dunia tersebut menyatakan bahwa peperangan bermula dari pikiran manusia, sehingga benteng pertahanan perdamaian juga harus dibangun dari dalam pikiran.

“Kalimat konstitusi dunia itu sangat sejalan dengan ajaran Buddha dalam kitab suci Dhammapada, bahwa pikiran adalah pendahulu, pemimpin, dan pencipta segala sesuatu,” paparnya secara filosofis.

Menurutnya, konflik bersenjata global hingga percekcokan domestik dalam institusi keluarga pada dasarnya berakar dari satu muara: pikiran yang meletup-letup akibat tidak terkendali.

Filosofi Air: Membaca Gejolak Keserakahan dan Kesombongan
Untuk memudahkan umat mengenali dinamika batin, Bhikkhu Sri Pannavaro menggunakan analogi air untuk menggambarkan tiga racun pikiran:

Air Bergelombang: Melambangkan pikiran manusia yang sedang didera keserakahan (lobha).

Baca Juga :  Sambut Waisak, Pembimas Buddha Papua Ajak Umat Jaga Alam Lewat Gerakan Eco Enzyme

Air yang Mendidih: Menggambarkan gejolak kebencian dan kemarahan (dosa).

Air Keruh dan Berbau: Menjadi representasi nyata dari kesombongan, keakuan, dan keangkuhan (moha).

“Kalau pikiran kita tenang (seperti air yang jernih dan diam), keserakahan, kebencian, dan keakuan akan sangat mudah dikenali lalu dijinakkan. Namun, dalam kondisi pikiran yang keruh, semua itu sulit terlihat,” terangnya.

Pesan Waisak: Sempatkan Duduk Hening Minimal Sekali Sehari
Menutup ceramahnya, Bhikkhu Sri Pannavaro mengajak umat untuk tidak sekadar bermeditasi secara musiman saat momen Waisak saja. Beliau menitipkan pesan praktis untuk melatih mindfulness (kesadaran penuh) di tengah kesibukan sehari-hari.

“Duduklah tenang minimal sekali sehari untuk bermeditasi. Tetapi yang paling penting adalah menghadirkan perhatian penuh dalam setiap aktivitas sepanjang hari. Kesadaran itulah yang memotong rantai suka dan tidak suka agar tidak melahirkan kebencian, sekaligus membuat kita benar-benar hidup pada saat ini,” pungkasnya.(Rilis)

Berita Terkait

Menteri Haji Evaluasi Penyelenggaraan Haji di Papua, Fokus Perbaikan Layanan Jamaah 2027
Karya Kaligrafi Terbaik Harus Padukan Kaidah dan Nilai Artistik
Dewan Hakim Nilai Pembinaan Tahfiz di Papua Tunjukkan Hasil Positif
Rakerda LPTQ Papua Sepakati Arah Baru Pembinaan Qurani dan Penguatan Kelembagaan
MTQ Papua Perkuat Peran Syarhil Al-Qur’an sebagai Media Dakwah Generasi Muda
BMP RI: Kasus Pembakaran Pesawat di Yahukimo Harus Diusut Hingga Tuntas
LPTQ Papua Pastikan Penjurian MTQ Berjalan Profesional dan Akuntabel
MTQ XXXI Papua Diawali Malam Ta’aruf, Sentani Jadi Titik Temu Kafilah Se-Tanah Papua

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:09 WIB

Menteri Haji Evaluasi Penyelenggaraan Haji di Papua, Fokus Perbaikan Layanan Jamaah 2027

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:32 WIB

Karya Kaligrafi Terbaik Harus Padukan Kaidah dan Nilai Artistik

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:16 WIB

Dewan Hakim Nilai Pembinaan Tahfiz di Papua Tunjukkan Hasil Positif

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:02 WIB

Rakerda LPTQ Papua Sepakati Arah Baru Pembinaan Qurani dan Penguatan Kelembagaan

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:54 WIB

MTQ Papua Perkuat Peran Syarhil Al-Qur’an sebagai Media Dakwah Generasi Muda

Berita Terbaru

Jangan Copy Ya