JAYAPURA,Papuaterdepan.com – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah (2026 Masehi), Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua menggelar rapat koordinasi persiapan pelaksanaan rukyatul hilal (pemantauan bulan baru).
Rapat yang difasilitasi oleh Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam ini dilaksanakan di Musala Al-Ikhlas Kanwil Kemenag Papua, Jayapura, pada Selasa (10/2/2026).
Kegiatan ini melibatkan Tim Falakiyah Provinsi Papua dan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Papua sebagai mitra strategis penyedia data astronomis.
Ketua Tim Urusan Agama Islam (Katim Urais) Kanwil Kemenag Papua, Aminah, menegaskan bahwa pelaksanaan rukyatul hilal adalah kewajiban institusional dan perintah agama, terlepas dari hasil perhitungan matematis (hisab) awal.
“Berdasarkan pemaparan data astronomis, peluang terlihatnya hilal memang sangat kecil karena ketinggiannya masih berada pada posisi minus. Namun demikian, rukyatul hilal tetap wajib dilaksanakan. Hasil rukyat akan menjadi data pendukung dalam Sidang Isbat di tingkat pusat,” ujar Aminah dalam keterangannya, Selasa.
Peluang Hilal Terlihat Sangat Kecil
Senada dengan hal tersebut, Ketua Tim Falakiyah Provinsi Papua, Hendra Yulia Rahman, memaparkan bahwa pemantauan hilal awal Ramadan 1447 H akan dilaksanakan bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H, yakni pada Selasa, 17 Februari 2026.
Hendra menjelaskan, berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia dari Merauke hingga Aceh masih berada di bawah ufuk.
“Di Merauke, ketinggian hilal sekitar -2 derajat, sedangkan di wilayah barat Indonesia seperti Sabang berada di kisaran minus 0,9 derajat. Angka ini masih jauh dari kriteria imkanur rukyat yang ditetapkan pemerintah (MABIMS), yakni minimal 3 derajat,” jelas Hendra.
Meski secara ilmiah hilal mustahil teramati, Hendra menegaskan bahwa observasi di lapangan harus tetap dijalankan sebagai prosedur resmi kenegaraan.
Dipusatkan di Merauke
Sementara itu, Prakirawan Meteorologi Muda BMKG Wilayah V Papua, Danang Pamuji, memastikan kesiapan peralatan teknis untuk pemantauan tersebut. Ia menyebut observasi akan dipusatkan di Pos Observasi Bulan milik Kemenag Papua yang berlokasi di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
“Pengamatan akan menggunakan alat teropong milik Kemenag dan BMKG. Berdasarkan perhitungan kami, ketinggian hilal di Merauke pada tanggal tersebut berada pada posisi minus 1,929 derajat,” ungkap Danang.
Nantinya, apa pun hasil observasi dari Merauke ini akan langsung dilaporkan ke Kemenag RI di Jakarta sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan 1 Ramadan 1447 H melalui Sidang Isbat.(rilis)








