Sentani,Papuaterdepan.com- Perkembangan seni kaligrafi Al-Qur’an di Papua menunjukkan tren yang semakin positif seiring meningkatnya minat generasi muda mengikuti cabang Musabaqah Khattil Al-Qur’an (MKQ) pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Papua.
Ketua Majelis Dewan Hakim MKQ MTQ XXXI Papua H. Hamzah mengatakan antusiasme peserta dalam cabang kaligrafi terus meningkat dari tahun ke tahun, baik pada tingkat kabupaten maupun provinsi.
“Potensi anak-anak muda Papua di bidang seni kaligrafi cukup besar. Setiap pelaksanaan MTQ terlihat adanya peningkatan kualitas maupun jumlah peserta yang mengikuti cabang ini,” kata Hamzah di Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis.
Menurut dia, cabang Khattil Al-Qur’an memiliki karakteristik berbeda dibanding cabang musabaqah lainnya karena menggabungkan unsur seni, ketelitian, dan pemahaman terhadap kaidah penulisan ayat suci Al-Qur’an.
Dalam proses penilaian, dewan hakim tidak hanya melihat keindahan visual karya, tetapi juga menempatkan ketepatan penulisan ayat sebagai aspek utama yang harus dipenuhi peserta.
Ia menjelaskan kesalahan teknis seperti penambahan huruf, pengurangan huruf, kesalahan harakat, maupun kekeliruan pemenggalan kata menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi makna ayat yang ditulis.
Karena itu, peserta dituntut bekerja secara cermat sejak awal hingga tahap akhir penyelesaian karya.
Selain akurasi penulisan, peserta juga dinilai berdasarkan kemampuan menerapkan kaidah jenis khat yang dipilih. Setiap model tulisan kaligrafi memiliki aturan tersendiri yang harus dipatuhi secara konsisten dalam seluruh bagian karya.
“Karya yang baik adalah karya yang benar secara kaidah dan mampu menunjukkan kualitas artistik yang tinggi,” ujarnya.
Hamzah menambahkan unsur kreativitas juga menjadi bagian penting dalam penilaian. Namun kreativitas yang dimaksud bukan sekadar permainan warna atau ornamen, melainkan kemampuan peserta menghadirkan ilustrasi visual yang selaras dengan pesan ayat yang ditulis.
Menurut dia, karya kaligrafi yang memiliki nilai lebih biasanya mampu menghubungkan dekorasi, komposisi, dan tema visual dengan kandungan ayat sehingga pesan Al-Qur’an dapat tersampaikan secara lebih kuat kepada penikmat karya.
Ia mengakui salah satu kendala yang masih sering ditemui peserta adalah pengelolaan waktu selama perlombaan. Banyak peserta yang fokus pada penyelesaian ornamen dan pewarnaan, namun kurang menyediakan waktu untuk memeriksa kembali ketepatan penulisan ayat.
Akibatnya, kesalahan-kesalahan kecil yang sebenarnya dapat diperbaiki justru tetap muncul hingga proses penilaian.
Di sisi lain, Hamzah menilai perkembangan pembinaan kaligrafi Islam di Papua perlu terus diperkuat agar potensi yang dimiliki generasi muda dapat berkembang secara maksimal.
Menurut dia, keberadaan pelatih, sanggar kaligrafi, serta program pembinaan yang berkelanjutan menjadi faktor penting dalam mencetak kaligrafer yang mampu bersaing pada ajang MTQ tingkat nasional.
“Minat sudah ada dan terus bertumbuh. Ke depan yang perlu diperkuat adalah pembinaan yang lebih terstruktur sehingga lahir lebih banyak kaligrafer muda Papua yang berprestasi,” katanya.
Cabang Musabaqah Khattil Al-Qur’an MTQ XXXI Papua dilaksanakan di kompleks Masjid Agung Al-Aqsha Sentani dengan melibatkan dewan hakim pada bidang kaidah khat, keindahan khat, dan hiasan khat. Penilaian dilakukan secara berjenjang untuk memastikan setiap karya dinilai secara objektif berdasarkan standar yang telah ditetapkan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ).









