Jayapura,Papuaterdepan.com– Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua diajak menjadikan kehidupan sebagai perjalanan iman yang dijalani bersama Tuhan dengan mengedepankan keharmonisan, kerendahan hati, dan penyerahan diri. Pesan tersebut disampaikan Melki Tefbana saat memimpin Ibadah Oikumene di Rumah Doa Kanwil Kemenag Papua, Senin (16/6/2026).
Dalam khotbahnya, Melki Tefbana dari Bidang Urusan Agama Kristen mengangkat bacaan Kejadian 13:1-18 tentang perjalanan Abram dan Lot dengan tema *”Berjalan dan Hidup Bukan Jalan-Jalan Biasa.”* Ia menegaskan bahwa setiap orang percaya sedang menempuh perjalanan hidup yang telah dirancang Tuhan sehingga setiap langkah memiliki tujuan dan makna yang mendalam.
Menurut Melki, kehidupan orang percaya bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan perjalanan iman yang harus dijalani bersama Tuhan. Karena itu, setiap keputusan dan tindakan perlu mencerminkan nilai-nilai iman serta ketaatan kepada kehendak-Nya.
Ia mencontohkan sikap Abram yang memilih menghindari pertengkaran dengan Lot sebagai teladan dalam menjaga hubungan dengan sesama. Abram, kata Melki, lebih memilih memberikan kesempatan kepada Lot untuk menentukan pilihan terlebih dahulu daripada mempertahankan haknya sendiri.
“Sikap Abram menunjukkan kedewasaan iman yang mengutamakan keharmonisan dibandingkan kepentingan pribadi. Ketika persoalan datang, jangan sampai kita lebih sibuk mempertahankan kepentingan diri sendiri daripada menjaga hubungan yang baik dengan sesama dan dengan Tuhan,” ujarnya.
Melki menekankan bahwa ukuran iman seseorang tidak hanya terlihat dari hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga dari cara memperlakukan orang lain. Menjaga perdamaian, menghindari perselisihan, dan mengutamakan kasih disebutnya sebagai bentuk nyata kehidupan yang beriman.
Selain itu, ia mengajak seluruh ASN Kanwil Kemenag Papua untuk belajar menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan sebagaimana dicontohkan Abram. Menurutnya, penyerahan diri kepada Tuhan seharusnya dilakukan ketika seseorang berada dalam kondisi kuat dan mampu, bukan hanya saat menghadapi kesulitan.
“Orang yang berserah kepada Tuhan di masa kekuatan menunjukkan bahwa seluruh hidupnya benar-benar dipimpin oleh Tuhan,” katanya.
Mengakhiri perenungannya, Melki mengingatkan bahwa perjalanan hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi yang tercepat mencapai tujuan, melainkan proses membangun keharmonisan bersama Tuhan dan sesama.
“Yang Tuhan kehendaki bukan sekadar kita cepat mencapai tujuan, tetapi bagaimana kita tetap menjaga iman, persaudaraan, dan keharmonisan dalam setiap langkah kehidupan,” tuturnya.
Ibadah Oikumene kemudian ditutup dengan doa bersama untuk kelancaran pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XIV yang akan berlangsung di Manokwari.
Kegiatan pembinaan rohani yang dilaksanakan secara rutin tersebut diikuti ASN yang terdiri atas Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), serta tenaga honorer di lingkungan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua sebagai bagian dari penguatan mental dan spiritual aparatur.(Rilis)









