Papuaterdepancom, Jayapura – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Papua menggelar pelatihan penyegaran bagi pendamping UKS dari 20 sekolah dasar binaan di Kota Jayapura, Jumat, 13 Juni 2025. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan kapasitas guru dalam edukasi kesehatan, komunikasi, dan penggunaan obat secara aman.
Koordinator LKC Dompet Dhuafa Papua, Tumijan, mengatakan pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya pada 22 Mei 2024 yang belum mencakup seluruh materi. “Beberapa materi pada pelatihan sebelumnya belum sempat disampaikan, jadi hari ini kita lanjutkan,” kata Tumijan saat ditemui di sela kegiatan di Abepura.
Ada tiga pokok materi yang diberikan, yaitu komunikasi efektif dalam penyuluhan, edukasi soal kecacingan dan penyalahgunaan antibiotik, serta pengenalan program Apoteker Cilik. Menurut Tumijan, penyalahgunaan antibiotik masih sering ditemukan di wilayah kampung.
“Masih banyak masyarakat yang langsung konsumsi antibiotik seperti amoksisilin tanpa resep, dan menghentikannya saat merasa sembuh. Ini berbahaya. Guru UKS harus memahami dan mengajarkan hal ini ke anak-anak,” ujarnya.
Tumijan menegaskan pentingnya pelatihan bagi guru UKS karena mereka menjadi ujung tombak edukasi kesehatan di sekolah. “Dokter kecil itu hanya sampai kelas enam. Tapi guru UKS bisa terus mendampingi dan bahkan ada yang sudah lebih dari sepuluh tahun aktif,” katanya.
Salah satu peserta, Hentji Wenno, guru PJOK dan pendamping UKS di SDN Inpres Youtefa, mengaku pelatihan ini menjawab keraguan yang sering ia alami saat menangani siswa yang sakit. “Kami khawatir salah memberi obat, jadi biasanya langsung rujuk ke puskesmas atau rumah sakit,” kata Hentji.
Ia menilai materi komunikasi efektif yang disampaikan sangat membantu dalam membangun relasi antara sekolah dan orang tua. “Selama ini komunikasi dengan orang tua masih jadi tantangan. Setelah pelatihan ini, kami lebih percaya diri menyampaikan informasi soal kesehatan,” ujarnya.
Program Anak Indonesia Sehat yang diinisiasi Dompet Dhuafa Papua awalnya melibatkan 31 sekolah dasar di Jayapura. Saat ini tersisa 20 sekolah aktif sebagai binaan. Sembilan sekolah dinyatakan mandiri, sedangkan dua lainnya memilih tidak melanjutkan kerja sama.









