Kali Acay Penuh Sampah: Jayapura di Tengah Darurat Plastik dan Banjir

- Redaksi

Kamis, 5 Juni 2025 - 20:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Papuaterdepancom, Jayapura – Ribuan botol air mineral, kemasan mie instan, dan kantong plastik memenuhi permukaan Kali Acay, sungai yang membelah pusat Kota Jayapura. Dari kejauhan, sungai ini tampak seperti pulau sampah yang tak bertepi, potret yang mencerminkan krisis pengelolaan limbah plastik di ibu kota Provinsi Papua.

Momen ini terjadi tepat di peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2025. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jayapura bersama sejumlah komunitas dan dinas terkait melakukan aksi “Grebek Sampah” di titik-titik kritis, salah satunya di Kali Acay.

Hasil penimbangan sampah dari aksi bersih tersebut mencatat total 452 kilogram, terdiri dari sampah plastik sebanyak 227 kg, dan sampah campuran 225 kg.

Itu jumlahnya tak seberapa, dibandingkan yang diangkut alat berat ekskavator milik Balai Wilayah Sungai dari Sungai yang disebut Kali Acay.

“Kita sudah tidak bisa lagi tangani ini secara manual. Volume sampah terlalu besar,” ujar Jece Mano, Kepala DLH Kota Jayapura. “Kami kerahkan ekskavator untuk mengangkat sampah dari sungai. Tapi kalau masyarakat terus buang sampah sembarangan, ya akan seperti ini terus.”

Kota dengan 242 Ton Sampah per Hari

Dinas Lingkungan Hidup mencatat, Kota Jayapura menghasilkan sekitar 242 ton sampah setiap hari, mayoritas berasal dari rumah tangga. Petugas kebersihan dari pasar-pasar besar seperti Pasar Induk Youtefa harus mengangkut sampah belasan kali sehari menggunakan gerobak ke Tempat Penampungan Sementara (TPS), sebelum akhirnya dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Koya Koso.

Baca Juga :  Pemkot Jayapura Dukung Pelatihan Dokter Kecil Dompet Dhuafa di 20 Sekolah

Namun kenyataannya, masih banyak warga yang memilih membuang sampah langsung ke selokan dan sungai. Alhasil, selain mencemari lingkungan, penumpukan sampah ini juga memicu banjir saat hujan deras turun.

“Kami punya pelayanan pengangkutan sampai ke rumah-rumah, tapi masih banyak warga yang buang ke sungai. Ini soal kebiasaan yang harus diubah,” tambah Jece.

“Pemerintah Lalai, Anggaran Harus Ditingkatkan”

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Papua menyatakan bahwa krisis sampah seperti di Kali Acay tak bisa hanya dibebankan pada DLH atau petugas lapangan.

“Masalah utama adalah kelalaian pemerintah dan kurangnya edukasi ke masyarakat,” kata Maikel Peuki, Direktur WALHI Papua. “Selama ini, persoalan lingkungan dianggap bukan prioritas. Padahal ini darurat.”

WALHI Papua meminta agar pemerintah kota-kota besar di Tanah Papua seperti Jayapura, Sorong, Nabire, Manokwari, Wamena, dan Merauke mengoptimalkan anggaran daerah untuk pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

“Pemerintah harus membuka ruang partisipasi, dan serius libatkan semua pihak. Kalau tidak, krisis ini akan terus berulang setiap musim hujan,” tambah Maikel.

“Dari Sungai ke Laut dan ke Tubuh Kita”

Aktivis Walhi Papua juga memperingatkan bahwa sampah yang menggenang di sungai seperti Kali Acay akan bermuara ke Teluk Youtefa, mengancam ekosistem laut dan kesehatan manusia.

Baca Juga :  Tewasnya Guru Amril, PGRI Papua Minta Hukum Tak Pandang Bulu

“Sampah plastik tidak hanya mengganggu estetika kota, tapi juga mencemari sumber air dan rantai makanan,” jelas Maikel.

Selain itu, tumpukan sampah juga berpotensi menjadi sarang penyakit. Jece Mano menyebut, musim penghujan biasanya diikuti lonjakan kasus demam berdarah akibat nyamuk yang berkembang biak di genangan air sampah.

Jalan Panjang Menuju Kota Bebas Sampah

Pemerintah Kota Jayapura telah menerbitkan larangan penggunaan air kemasan dalam acara resmi. ASN diwajibkan menggunakan botol tumbler. Sejumlah toko ritel juga diminta memilah sampah dan menjalin kerja sama dengan bank sampah atau TPS 3R.

Namun Jece mengakui, perubahan butuh waktu.

“Sampai hari ini, belum ada produsen yang benar-benar ikut bertanggung jawab atas sampahnya. Tapi kami mulai dorong itu,” katanya.

Sementara WALHI Papua menegaskan bahwa solusi tidak bisa setengah hati. Dibutuhkan perubahan sistem, bukan sekadar aksi simbolik tahunan.

“Kalau Kita Mau Kota Bersih, Mulai dari Diri Sendiri”

Di bawah langit mendung Jayapura tadi pagi, sungai yang pernah jernih kini menjadi cermin dari pilihan kolektif warga dan pemerintah.

“Petugas kami kerja tiap hari. Tapi kalau kita tidak ubah kebiasaan, tidak ada gunanya,” tutur Jece Mano.

Berita Terkait

PTAM Jayapura Turun Tangan Bantu Korban Kebakaran Dok 8 Pantai
Tokoh adat Papua dorong mahasiswa hindari konflik dan utamakan pendidikan
SMP Negeri 12 Jayapura Pastikan Asesmen Sekolah Berjalan Lancar
Kemenag Jayapura Monitoring Tes Akademik TIK di 3 Madrasah Ibtidaiyah
Pentas Seni Budaya Warnai Peringatan Papua Bergabung ke NKRI di Jayapura
Bulog Papua Pastikan Distribusi Minyakita Lancar, Stok di Pasar Tradisional Tetap Aman
Generasi Muda Papua Diajak Isi Momentum 1 Mei dengan Kegiatan Kreatif
Spiritualitas di Tengah Keberagaman: Kemenag Kota Jayapura Buka MTQ XXXI di Muara Tami

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:04 WIB

PTAM Jayapura Turun Tangan Bantu Korban Kebakaran Dok 8 Pantai

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:24 WIB

Tokoh adat Papua dorong mahasiswa hindari konflik dan utamakan pendidikan

Rabu, 6 Mei 2026 - 10:04 WIB

SMP Negeri 12 Jayapura Pastikan Asesmen Sekolah Berjalan Lancar

Selasa, 5 Mei 2026 - 12:36 WIB

Kemenag Jayapura Monitoring Tes Akademik TIK di 3 Madrasah Ibtidaiyah

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:34 WIB

Pentas Seni Budaya Warnai Peringatan Papua Bergabung ke NKRI di Jayapura

Berita Terbaru

Jangan Copy Ya