Papuaterdepancom, Jayapura – Ribuan botol air mineral, kemasan mie instan, dan kantong plastik memenuhi permukaan Kali Acay, sungai yang membelah pusat Kota Jayapura. Dari kejauhan, sungai ini tampak seperti pulau sampah yang tak bertepi, potret yang mencerminkan krisis pengelolaan limbah plastik di ibu kota Provinsi Papua.
Momen ini terjadi tepat di peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2025. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jayapura bersama sejumlah komunitas dan dinas terkait melakukan aksi “Grebek Sampah” di titik-titik kritis, salah satunya di Kali Acay.
Hasil penimbangan sampah dari aksi bersih tersebut mencatat total 452 kilogram, terdiri dari sampah plastik sebanyak 227 kg, dan sampah campuran 225 kg.
Itu jumlahnya tak seberapa, dibandingkan yang diangkut alat berat ekskavator milik Balai Wilayah Sungai dari Sungai yang disebut Kali Acay.
“Kita sudah tidak bisa lagi tangani ini secara manual. Volume sampah terlalu besar,” ujar Jece Mano, Kepala DLH Kota Jayapura. “Kami kerahkan ekskavator untuk mengangkat sampah dari sungai. Tapi kalau masyarakat terus buang sampah sembarangan, ya akan seperti ini terus.”
Kota dengan 242 Ton Sampah per Hari
Dinas Lingkungan Hidup mencatat, Kota Jayapura menghasilkan sekitar 242 ton sampah setiap hari, mayoritas berasal dari rumah tangga. Petugas kebersihan dari pasar-pasar besar seperti Pasar Induk Youtefa harus mengangkut sampah belasan kali sehari menggunakan gerobak ke Tempat Penampungan Sementara (TPS), sebelum akhirnya dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Koya Koso.
Namun kenyataannya, masih banyak warga yang memilih membuang sampah langsung ke selokan dan sungai. Alhasil, selain mencemari lingkungan, penumpukan sampah ini juga memicu banjir saat hujan deras turun.
“Kami punya pelayanan pengangkutan sampai ke rumah-rumah, tapi masih banyak warga yang buang ke sungai. Ini soal kebiasaan yang harus diubah,” tambah Jece.
“Pemerintah Lalai, Anggaran Harus Ditingkatkan”
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Papua menyatakan bahwa krisis sampah seperti di Kali Acay tak bisa hanya dibebankan pada DLH atau petugas lapangan.
“Masalah utama adalah kelalaian pemerintah dan kurangnya edukasi ke masyarakat,” kata Maikel Peuki, Direktur WALHI Papua. “Selama ini, persoalan lingkungan dianggap bukan prioritas. Padahal ini darurat.”
WALHI Papua meminta agar pemerintah kota-kota besar di Tanah Papua seperti Jayapura, Sorong, Nabire, Manokwari, Wamena, dan Merauke mengoptimalkan anggaran daerah untuk pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
“Pemerintah harus membuka ruang partisipasi, dan serius libatkan semua pihak. Kalau tidak, krisis ini akan terus berulang setiap musim hujan,” tambah Maikel.
“Dari Sungai ke Laut dan ke Tubuh Kita”
Aktivis Walhi Papua juga memperingatkan bahwa sampah yang menggenang di sungai seperti Kali Acay akan bermuara ke Teluk Youtefa, mengancam ekosistem laut dan kesehatan manusia.
“Sampah plastik tidak hanya mengganggu estetika kota, tapi juga mencemari sumber air dan rantai makanan,” jelas Maikel.
Selain itu, tumpukan sampah juga berpotensi menjadi sarang penyakit. Jece Mano menyebut, musim penghujan biasanya diikuti lonjakan kasus demam berdarah akibat nyamuk yang berkembang biak di genangan air sampah.
Jalan Panjang Menuju Kota Bebas Sampah
Pemerintah Kota Jayapura telah menerbitkan larangan penggunaan air kemasan dalam acara resmi. ASN diwajibkan menggunakan botol tumbler. Sejumlah toko ritel juga diminta memilah sampah dan menjalin kerja sama dengan bank sampah atau TPS 3R.
Namun Jece mengakui, perubahan butuh waktu.
“Sampai hari ini, belum ada produsen yang benar-benar ikut bertanggung jawab atas sampahnya. Tapi kami mulai dorong itu,” katanya.
Sementara WALHI Papua menegaskan bahwa solusi tidak bisa setengah hati. Dibutuhkan perubahan sistem, bukan sekadar aksi simbolik tahunan.
“Kalau Kita Mau Kota Bersih, Mulai dari Diri Sendiri”
Di bawah langit mendung Jayapura tadi pagi, sungai yang pernah jernih kini menjadi cermin dari pilihan kolektif warga dan pemerintah.
“Petugas kami kerja tiap hari. Tapi kalau kita tidak ubah kebiasaan, tidak ada gunanya,” tutur Jece Mano.









