Papuaterdepancom, Jayapura – Calon Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Jayapura, Muhammad Taufiq, memaparkan visi dan gagasannya dalam forum Musyawarah Cabang (Muscab) VI HIPMI Kota Jayapura, Sabtu, 31 Mei 2025. Dalam forum yang berlangsung di Hotel Grand Tabi, Taufiq menjawab berbagai pertanyaan dari panelis mengenai investasi, keamanan, potensi pariwisata, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Taufiq menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam membangun ekosistem kewirausahaan di Papua. Menurutnya, kondisi sosial dan geografis Papua menuntut kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, dan komunitas lokal. “Di Papua, pengusaha tidak hanya menghadapi tantangan pasar, tapi juga faktor keamanan dan budaya. Karena itu, komunikasi dengan semua pemangku kepentingan sangat penting,” ujar Taufiq.
Ia menyoroti persoalan keamanan yang kerap dihadapi pelaku usaha, terutama pada malam hari. Menurutnya, masih ada gangguan dari oknum masyarakat yang berada di bawah pengaruh alkohol, yang berdampak pada kelangsungan usaha. “Kita harus libatkan aparat, baik TNI maupun Polri, untuk menciptakan rasa aman bagi pengusaha muda di lapangan,” ucapnya.
Dalam bidang pengembangan ekonomi lokal, Taufiq mengangkat sektor pariwisata sebagai peluang strategis. Ia mencontohkan praktik baik dari Makassar, di mana usaha wisata bahari seperti jetski di Pulau Samalona dikelola oleh anak-anak muda dengan dukungan pemerintah dan komunitas lokal. “Model seperti ini bisa kita adaptasi di Jayapura, disesuaikan dengan kearifan lokal dan keterlibatan pemuda adat,” kata Taufiq.
Ia menekankan bahwa generasi muda dari komunitas adat perlu dilibatkan langsung sebagai pelaku usaha di atas tanah mereka sendiri. HIPMI, kata dia, akan berperan sebagai pendamping. “Kami ingin pemilik hak ulayat jadi pengusaha, bukan hanya penyedia lahan. Kami akan ajak mereka berwirausaha bersama,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan terkait adopsi teknologi dan AI dalam dunia usaha, Taufiq menyatakan pentingnya digitalisasi UMKM. Namun, ia menilai penguatan organisasi internal harus menjadi fondasi awal. “Saya akan membenahi struktur HIPMI agar lebih aktif dan responsif, karena tidak mungkin saya bekerja sendiri,” katanya.
Taufiq juga menyoroti tantangan perizinan yang sering dihadapi pelaku usaha pemula. Ia berjanji akan membuka ruang advokasi dengan pemerintah daerah agar pelaku UMKM mendapatkan kemudahan akses legalitas usaha. “Kalau dipercaya memimpin, saya siap menjembatani kesulitan anggota dalam hal perizinan dan dukungan regulasi,” katanya.
Sementara itu, Formatur Ketua BPD HIPMI Papua Supriadi Laling menyoroti kondisi ekonomi Papua yang masih tertinggal. Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Papua pada kuartal I 2025 hanya mencapai 3,91 persen terendah secara nasional. “Ini menjadi tantangan besar. Kita perlu sinergi semua pihak untuk mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif,” ujar Supriadi.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan jumlah pengusaha muda sebagai indikator kemajuan suatu daerah. “Secara nasional, rasio pengusaha baru 3,4 persen. Padahal negara-negara Asia Tenggara lainnya sudah mencapai 6–7 persen. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal pola pikir,” katanya.
Muscab VI HIPMI Kota Jayapura dijadwalkan berlanjut pada Rabu, 14 Juni 2025, dengan agenda penetapan kepengurusan baru periode 2025–2028.









