Jayapura,Papuaterdepan.com – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua, Klemens Taran, mengajak seluruh umat beragama menjadikan perayaan Waisak sebagai momentum untuk memperkuat semangat perdamaian, toleransi, dan persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat Papua yang beragam.
Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri Dharmasanti Waisak 2570 BE yang digelar Vihara Arya Dharma Jayapura, Minggu. Kegiatan yang mengangkat tema “Journey of Sakyamuni” itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Waisak sekaligus ruang refleksi atas nilai-nilai luhur ajaran Buddha yang mengedepankan kasih sayang dan kebijaksanaan.
Menurut Klemens, tema Waisak nasional tahun ini, “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”, mengandung pesan yang sangat relevan dengan kondisi global maupun kehidupan sosial masyarakat Indonesia, termasuk di Papua.
“Kedamaian bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya, tetapi harus dibangun melalui sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan mengutamakan kepentingan bersama. Karena itu, menjaga perdamaian menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat,” katanya, Minggu (24/05/2026)
Ia mengatakan Papua selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan toleransi antarumat beragama. Kondisi tersebut perlu terus dipelihara melalui dialog, kerja sama, dan berbagai kegiatan sosial yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.
Klemens juga mengapresiasi rangkaian kegiatan sosial yang dilaksanakan umat Buddha menjelang Waisak, mulai dari donor darah, bakti sosial, kunjungan ke panti asuhan dan panti sosial, penanaman pohon hingga aksi peduli lingkungan.
Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan tidak hanya diwujudkan dalam ritual ibadah, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi sesama dan lingkungan.
“Ini adalah bentuk implementasi ajaran agama yang sangat baik. Ketika umat beragama hadir membantu masyarakat, maka secara tidak langsung mereka ikut memperkuat persaudaraan dan menjaga harmoni sosial,” ujarnya.
Dharmasanti Waisak tahun ini dikemas dalam bentuk drama musikal yang menceritakan perjalanan hidup Siddhartha Gautama sejak kelahiran hingga mencapai penerangan sempurna dan menjadi Sang Buddha.
Pertunjukan yang melibatkan anak-anak Sekolah Minggu Buddhis, generasi muda, hingga para senior Vihara Arya Dharma itu mendapat apresiasi dari para tamu undangan karena mampu menyampaikan nilai-nilai moral dan spiritual melalui pendekatan seni budaya.
Ketua Panitia Dharmasanti Waisak 2026, Hendry Ting, mengatakan kegiatan tersebut menjadi puncak rangkaian acara sebelum pelaksanaan Puja Waisak yang akan digelar pada akhir Mei.
Menurut dia, seluruh proses persiapan dilakukan secara gotong royong oleh umat Buddha dengan dukungan para relawan dan donatur yang memiliki semangat yang sama untuk menyukseskan perayaan keagamaan tersebut.
Sementara itu, Ketua Yayasan Buddha Dharma Jayapura, Teddy Wandiyanto, mengatakan pertunjukan bertema Journey of Sakyamuni sengaja dipilih untuk memperkenalkan perjalanan hidup Sang Buddha kepada masyarakat sekaligus menyampaikan pesan universal tentang cinta kasih dan kedamaian.
“Kami ingin nilai-nilai kebijaksanaan yang diajarkan Sang Buddha dapat dipahami oleh semua kalangan dan menjadi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Kepala Vihara Arya Dharma, YM Badra Pravira Sthavira, mengatakan Waisak sejatinya bukan hanya peringatan sejarah keagamaan, tetapi juga momentum untuk melakukan refleksi diri dan memperkuat praktik kebajikan.
Ia mengajak umat Buddha untuk terus mengembangkan cinta kasih, kesabaran, serta kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari implementasi ajaran Dharma.
“Waisak mengingatkan kita untuk mengurangi kebencian, mengendalikan keserakahan, dan memperbanyak perbuatan baik demi menciptakan kehidupan yang damai,” ujarnya.
Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Papua, Modalky S. Dighandi Gun, menambahkan bahwa nilai-nilai Waisak harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui penghormatan terhadap perbedaan dan semangat persaudaraan lintas agama.
Menurut dia, keberagaman yang dimiliki Papua merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama agar tetap menjadi fondasi bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis.
Pada kesempatan yang sama, Pembimbing Masyarakat Buddha Kanwil Kementerian Agama Papua, Sarono, menilai kehadiran tokoh lintas agama, pemerintah, serta umat Buddha dari berbagai organisasi dan majelis dalam satu kegiatan menjadi bukti nyata kuatnya kerukunan umat beragama di Papua.
Ia berharap semangat kebersamaan tersebut terus dipertahankan dan menjadi contoh bagi generasi muda dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Dharmasanti Waisak 2570 BE kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk kedamaian dunia, kerukunan antarumat beragama, serta kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Papua.(Rilis)









